Arman Dhani: Memilih Media Alternatif

Sumber foto: kandhani.net


“Menulis di media-media alternatif menjadi ruang bagi saya untuk menguji mental dan kualitas. Jika dimuat, artinya tulisan saya masuk standar minimum media itu untuk dikatakan layak dimuat. Jika tidak, berarti saya mesti memperbaiki diri dan belajar lebih keras,” tulis Dhani dalam artikel yang berjudul Mengapa Sebaiknya Anda Menulis di Media Alternatif dimuat di media dalam jaringan Midjournal.

Arman Dhani adalah salah satu penulis produktif yang memilih menulis artikel di media alternatif. Tulisannya sudah malang-melintang di berbagai media alternatif seperti Mojok, Indoprogress, Midjournal, Jakartabeat, Islamlib, Lentera Timur, dan lain-lain. Pria alumni Universitas Jember ini mampu menulis artikel berbagai macam topik, mulai dari pengalaman pribadi sampai isu terhangat negeri ini.

Nama Arman Dhani semakin dikenal ketika perseteruan tegangnya dengan Zarry Hendrik tahun 2014 di dunia maya. Mereka berdua saling beradu argumen lewat artikel mengenai salah satu calon presiden.   Keduanya merupakan orang yang aktif menyampaikan pendapatnya lewat media sosial. Setahun berselang, pria yang menyukai buku History of Reading karya Alberto Manguel ini menulis sebuah buku yang bertajuk Dari Twitwar ke Twitwar yang membahas tentang isu yang ramai dibahas di media sosial.

Begitulah profil singkat Arman Dhani yang merupakan salah satu penulis muda yang aktif, produktif, serta berani memilih jalur media alternatif sebagai wadah karya tulisnya. Melalui surat elektronik, saya berhasil mewawancarai Arman Dhani yang saat ini bekerja sebagai editor di Geotimes. Berikut wawancara saya dengan Arman Dhani.

Sejak kapan Anda mulai menulis artikel opini?

Mungkin sejak kuliah? Saya lupa tepatnya, tapi saya bergabung dengan pers mahasiswa pada 2007 dan mulai menulis sejak saat itu.

Darimana Anda belajar menulis artikel opini?

Dari senior di pers mahasiswa. Tepatnya Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa Tegalboto di Universitas Jember.

Bagaimana cara Anda mendapatkan ide untuk menulis artikel opini?

Dulu sih dari buku. Ada beberapa hal yang membuat saya resah lalu menulis. Belakangan banyak isu di media sosial yang menarik ditelaah dan dianalisa.

Bagaimana proses menulis artikel opini setelah mendapatkan ide?

Biasanya saya memperbanyak artikel dan berita tentang ide yang hendak saya tulis. Melakukan proses verifikasi terhadap angka dan nama. Ini penting agar tak menulis sesuatu yang ngawur dan salah. Setelah itu menyusun outline lantas menuliskannya jadi satu artikel utuh.

Apakah Anda menyeleksi ide yang sudah Anda dapatkan?

Tentu. Saya enggan menulis berdasarkan opini kebanyakan, dalam artian mengikuti arus utama pikiran. Ada banyak ide yang bisa digali, ini soal perspektif dan keberpihakan.

Apakah sebelum menulis artikel opini, Anda membuat kerangka tulisan?

Tentu. Tapi belakangan menguranginya, karena tenggat.

Bagaimana cara Anda membuat judul yang menarik perhatian pembaca?

Dengan mengambil inti dari argumen yang hendak anda sampaikan.

Bagaimana cara Anda membuka tulisan yang menarik perhatian pembaca?

Kadang dengan kutipan kadang dengan nama, belakangan dengan berita dan isu terkini agar orang bisa langsung paham apa yang hendak saya sampaikan.

Bagaimana cara Anda menutup tulisan Anda?

Dengan pertanyaan baru.

Bagaimana cara membuat sistematika tulisan yang baik dan mudah dipahami?

Sampai saat ini saya menolak membuat sistematika macam itu. Penulis semestinya memberikan teka-teki, cara pandang dan argumen. Bukan berkhotbah dan berusaha membuat orang lain manja dengan tulisan yang mudah dipahami. Tulisan semestinya menantang untuk berpikir panjang.

Apakah ada topik yang menjadi fokus Anda dalam menulis?

Isu-isu toleransi, feminisme dan LGBT.

Apa referensi Anda dalam menulis artikel?

Buku atau kadang situs-situs dengan kredibilitas dan integritas yang baik.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menulis satu artikel opini?

2-3 jam.

Apa kesulitan Anda saat menulis artikel opini? Bagaimana cara mengatasinya?

Kadang kesulitan. Tidur yang nyenyak.

Seberapa sering Anda menulis artikel opini dalam satu bulan?

9 kali mungkin?

Apakah Anda sering mengirim tulisan ke media cetak? Kemana?

Tidak.

Apa tujuan Anda menulis artikel opini?

Menyampaikan sudut pandang lain, usaha untuk memberikan pemikiran, dan buat saya pribadi disiplin menulis.

Berapa honor yang didapatkan dari menulis artikel opini?

Cukup untuk hidup.

Apa indikator artikel opini yang berkualitas menurut Anda?

Ia bisa melahirkan polemik, dalam artian membuat orang berpikir panjang, melahirkan perdebatan yang sehat dan memberikan cara pandang baru. Ia mesti adil, didasari oleh argumen yang kuat, data yang valid dan rujukan yang kredibel. Opini yang dibangun tidak berdasarkan dengan kebencian rasial, bukan sekedar gossip, dan mampu membuat pembacanya berpikir panjang.

Apa saran Anda untuk penulis pemula agar tulisannya berkualitas?

Banyak membaca dan banyak menulis. Apa saja, baca lalu tulis. Begitu terus sampai kamu jadi hebat.

Apa saran Anda untuk penulis pemula agar produktif menulis?

Banyak-banyaklah berpikir dan gelisah.

Mengapa Anda suka nyinyir atau menyindir di twitter?

Karena banyak hal yang membuat saya gelisah atau tidak sesuai dengan apa yang saya tahu.

Mengapa Anda sering menulis di media alternatif?

Karena ruang itu ada dan tangible. Anda bisa tahu berapa orang yang membaca dan bagaimana respon mereka terhadap tulisan anda.

Wawancara ini dilakukan pada akhir Desember 2015 untuk tugas praktik dari Mata Kuliah Penulisan Artikel dan Tajuk Rencana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s