Menilik Makna Lirik “Bahas Bahasa”

Barasuara terbentuk sejak tahun 2011. Band ini diinisiasi oleh Iga Massardi yang kemudian mengajak koleganya, TJ Kusuma (gitar), Gerald Situmorang (bass), Marco Steffiano (drum), Asteriska (vokal), dan Puti Chitara (vokal) untuk bergabung. Selang waku 4 tahun, kini Barasuara tengah sibuk mempersiapkan konser debut albumya yang bertitel Konser Taifun di Rossi Musik, Fatmawati, Jakarta Selatan pada 22 Oktober 2015 mendatang.

Debut album Barasuara ini diberi judul Taifun dengan sembilan buah lagu diantaranya “Bahas Bahasa”, “Api & Lentera”, “Sendu Melagu”, “Tarintih”, “Nyala Suara” yang sering dibawakan Barasuara saat tampil di atas panggung. Kelima lagu tersebut sudah sering dihujani nyanyian massal dari para penonton. Selain itu, masih ada empat lagu lainnya seperti “Taifun”, “Menunggang Badai”, “Mengunci Ingatan”, dan “Hagia”. Proses pengerjaan materi album ini sendiri menghabiskan waktu selama 3 tahun.

Sebelum merilis albumnya, Barasuara lebih dulu menyebarkan single pertama dari debut albumnya yang berjudul “Bahas Bahasa” pada pertengahan September lalu lewat video lirik “Bahas Bahasa” yang disutradarai sendiri oleh Iga Massardi bersama Puti Chitara. Dalam pembuatannya, Iga dibantu Akhmad Aditya Reynanto dan Ario Kiswinar Teguh dari PEPA untuk menulis dan membuat ilustrasi liriknya. Lirik “Bahas Bahasa” sendiri diciptakan oleh pentolan Barasuara, Iga Massardi.

Album Taifun dari Barasuara diprediksi akan menjadi salah satu album terbaik tahun 2015. Nada-nada unik menghiasi setiap lagunya yang mengawinkan dua aliran musik jenis rock dengan folk. Hasilnya memang terdengar megah dan padu, Barasuara mampu menyatukan berbagai suara alat musik menjadi sebuah karya luar biasa. Selain itu, lirik lagu Barasuara hasil ‘buah tangan’ Iga semakin menguatkan musikalitas band asal ibukota ini. Seperti lirik single pertama mereka “Bahas Bahasa” berikut ini:

Bahas Bahasa

O! Itu tak kau lihat tak kau ragu
Peluh dan peluru hujam memburu
Bahasamu bahas bahasanya
Lihat kau bicara dengan siapa

Lidah kian berlari tanpa henti
Tanpa disadari tak ada arti
Bahasamu bahas bahasanya
Lihat kau bicara dengan siapa

Makna – makna dalam aksara
Makna mana yang kita bela
Berlabuh lelahku
Di kelambu jiwamu

Iga pandai memilih judul “Bahas Bahasa” yang terbilang unik dan mudah diingat. Setelah membaca judul lagu tersebut muncul pertanyaan, apakah Iga akan membahas mengenai bahasa Indonesia? Pada dua baris pertama lirik lagu tersebut menggambarkan realitas saat ini yakni kemudahan memperoleh informasi membuat kita dengan mudah terperangkap dengan hal-hal yang tabu dan belum tentu benar (kabar burung). Parahnya, kita tidak kritis terhadap informasi tersebut dan mempercayai informasi tersebut tanpa menelaah dengan cermat lebih lanjut.

Kata “peluru” bersifat konotatif. Peluru melambangkan bahaya dan cepatnya informasi yang mampu membunuh intelektual seseorang karena memperoleh informasi yang salah. Lirik lagu ini secara keseluruhan menggambarkan situasi adu mulut yang tak menghasilkan apa-apa. Seringnya kita melihat perseteruan argumentasi tanpa henti dan tanpa arti. Mereka hanya berkutat pada omong kosong yang semakin dalam dan menghabiskan waktu dan pikiran.

Masalah yang digambarkan Iga pada lirik lagu ini menjelaskan situasi politik yang sering beradu mulut tanpa sebuah resolusi yang pasti. Situasi tersebut dijelaskan dalam kalimat “Bahasamu bahas bahasanya”. Adu mulut tanpa henti karena yang dibahas tidak pernah selesai, saling meninggikan derajatnya satu sama lain seperti dalam lirik “Lihat kau bicara dengan siapa”.

Iga tidak hanya memberikan gambaran situasi adu mulut tetapi juga mencoba mencari jalan keluar pada masalah yang terjadi. Hal tersebut dapat dilihat dari makna lirik lagu “Berlabuh lelahku. Dikelambu jiwamu”. Kedua kalimat tersebut menjadi solusi yang ditawarkan Iga dalam liriknya. Tidak heran, penulisan lirik Iga Massardi seperti sajak atau syair karena ayahnya merupakan seorang sastrawan bernama Yudhistira ANM Massardi.

Sudah saatnya kita saling menerima satu sama lain jika ada perbedaan maka bukan berarti kita harus memaksakan kehendak. Perseteruan berakhir ketika kita saling introspeksi diri dan melihat hati masing-masing. Kita sering membahas mana yang lebih benar tapi terkadang kita juga harus menerima apa yang mereka percaya. Sesuatu apa pun bisa berbeda dalam penafsirannya tergantung apa yang kita percayai dan sejauh mana referensi pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki.

Simak video liriknya di bawah ini.

Tulisan ini juga dimuat di website musik Gilanada.com 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s