Pahlawan Tidak Sakiti Rakyatnya

Sumber foto: intelijen.co.id


Kini, Indonesia memilki 168 pahlawan nasional. Pada 2015, ada lima orang yang baru dinobatkan sebagai pahlawan diantaranya, Muhammad Yasin dan Mas Isman (Jawa Timur), Ki Bagus Hadikusumo (Yogyakarta), I Gusti Ngurah Made Agung (Bali), dan Benhard Wilhem Lapian (Sulawesi). Mereka berlima berasal dari berbagai daerah di Indonesia. (Republika, 10/11 2015)

Selain kelima pahlawan tersebut, Mantan Presiden Indonesia Soeharto dan Abdurrahman Wahid pun tinggal menanti Keputusan Presiden (Keppres) untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional. Bila tidak ada masyarakat yang mengajukan keberatan atau menolak mereka sebagai pahlawan maka tinggal menunggu waktu. Informasi tersebut didasarkan atas pernyataan Menteri Sosial Khofifah Indar Parwansa saat mengisi diskusi pahlawan pada Senin (9/11/2015) di kantor berita Antara, Surabaya.

Ada satu nama lagi yang sudah lama diajukan menjadi pahlawan nasional, dia adalah Sarwo Edhie Wibowo. Namanya kembali mencuat tahun ini setelah ada rekomendasi dari Dewan Gelar Pahlawan Nasional. Berbeda dengan kedua mantan presiden, Sarwo sudah memeroleh Keppres dan tinggal proses menanti penganugerahan saja. Namun, penulis sekaligus composer musik Soe Tjen Marching menolak keras penobatan gelar pahlawan nasional untuk Sarwo. Kemudian, ia mencari dukungan dari berbagai kalangan dengan membuat petisi via Change.org.

Tahun 2014, Soe berhasil menggagalkan penobatan gelar pahlawan nasional untuk Sarwo dengan cara yang sama yaitu dengan membuat petisi lewat Change.org. Apakah tahun ini ia akan kembali berhasil? Mengapa ia tetap gigih menyuarakan penolakan Sarwo sebagai pahlawan nasional? Siapa sebenarnya Sarwo Edhie Wibowo?

Sarwo Edhie Wibowo adalah ayahanda dari Kristiani Herrawati atau yang lebih dikenal dengan nama Ani Yudhoyono. Sarwo terkenal berkat perannya sebagai pemimpin pemberantasan PKI di Indonesia. Ia lahir di Purworejo, Jawa Tengah tepatnya pada 25 Juli 1925. Orang tua Sarwo bekerja sebagai pegawai negeri sipil untuk kolonial Belanda. Beranjak dewasa, Sarwo memilih menjadi tentara sebagai jalan hidupnya. Kemudian, ia mendaftarkan diri sebagai prajurit Pembela Tanah Air (PETA) yang dilatih oleh Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, Sarwo bergabung dengan BKR yang merupakan cikal bakal TNI saat ini. Lalu, ia membentuk batalion sendiri tapi tidak bertahan lama. Akhirnya, Sarwo pindah ke Magelang untuk bergabung dengan temannya, Ahmad Yani. Sarwo dan Ahmad Yani adalah teman satu kampung halaman di Purworejo.

Hubungan Ahmad Yani dan Sarwo Edhie Wibowo terbilang dekat karena keduanya berasal dari Purworejo. Selain itu, Jusuf Wanandi dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998, mengungkapkan setelah Sarwo kembali dari pelatihan di Staf Akademi Militer di Queenscliff, Australia, Ahmad Yani menunjuk Sarwo untuk menjadi pemimpin RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, sekarang menjadi Kopassus –Komando Pasukan Khusus).

Dalam biografi Benny Moerdani Profil Prajurit Negarawan karya Julius Pour, Yani pernah bertanya mengenai pengganti Kolonel Moeng Parhadimuljo sebagai Komandan RPKAD. Benny lebih memilih Letkol Widjojo Soejono yang kala itu menjabat sebagai Kepala Staf RPKAD daripada Komandan Sekolah Para Komando Angkatan Darat Letkol Sarwo Edhie Wibowo.

Di dalam internal RPKAD sendiri merasa keberatan dengan diangkatnya Sarwo karena ada yang lebih senior, berpengalaman, dan layak mendapatkan jabatan tersebut. Salah satunya, Benny Moerdani yang mempersoalkan pengangkatan Sarwo kepada Yani. Benny pun langsung diminta untuk keluar dari RPKAD dan melapor kepada Jenderal Soeharto oleh Yani. Demikian akhirnya, Benny bergabung dengan Kostrad.

Pada 1 Oktober 1965 dini hari, Yani ditangkap para komplotan Gerakan 30 September. Setelah ditangkap, ia meminta waktu untuk sekadar mandi dan berganti pakaian. Para penculik tersebut menolak, Ahmad Yani pun marah, menampar salah satu penculik, dan mencoba menutup pintu depan rumahnya. Lalu, salah satu penculik menembak Ahmad Yani secara spontan. Jasad Ahmad Yani dan sejumlah jenderal lainnya dibawa dan dibuang di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Tersiar kabar tewasnya Ahmad Yani –teman sekaligus pelindung Sarwo– membuat Sarwo geram dan marah. Kemudian pada bulan Oktober, ia meluncur bersama 400 pasukan RPKAD melakukan penumpasan para anggota dan simpatisan yang diduga PKI dari Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali selama 3 bulan sejak Oktober hingga Desember 1965.

Dalam perhitungan jumlah korban tewas, menurut redaktur mingguan Mahasiswa Indonesia Rum Aly, menyebutkan perhitungan moderat korban sekitar 500.000 jiwa. Namun dalam bukunya Titik Silang Kekuasaan 1966, Rum Aly mengatakan, Sarwo yang berada di lapangan pascaperistiwa di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, suatu ketika pernah menyebut angka tiga juta jiwa. Angka tersebut merupakan perkiraan jumlah korban tewas akibat pembunuhan massal yang dipimpin Sarwo Edhie Wibowo.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Pahlawan adalah orang yang berjasa lewat aksinya yang berani menghadapi kesulitan dan tantangan berat demi kemaslahatan orang banyak. Seorang pahlawan tidak mungkin menyakiti atau bahkan sampai membunuh satu orang pun karena pahlawan harus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang tedapat pada sila kedua Pancasila, “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Lantas apakah tokoh pemimpin para penjahat kemanusiaan pantas menjadi pahlawan nasional?

Tulisan ini merupakan tugas praktik untuk Mata Kuliah Penulisan Artikel dan Tajuk Rencana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s