Teori Pemikiran Kelompok

Sumber foto: moviepilot.com


Teori Pemikiran Kelompok

(Groupthink Theory)

Oleh: Irvin L. Janis

 I. Latar Belakang Teori

Konsep teori pemikiran kelompok (groupthink) merupakan perkembangan kajian tentang kohesivitas kelompok yang sebelumnya telah dibahas oleh Kurt Lewin pada tahun 1930.

Teori Pemikiran Kelompok (groupthink) dirumuskan oleh Irvin L. Janis lewat karyanya yang berjudul Victims of Groupthink: A Psychological Study of Foreign Decisions and Fiascoes (1972). Istilah groupthink atau pemikiran kelompok berarti suatu mode berpikir sekelompok orang yang bersifat kohesif (terpadu), ketika usaha-usaha keras yang dilakukan angota-anggota kelompok untuk mencapai kata mufakat. Untuk mencapai kebulatan suara kelompok ini mengesampingkan motivasinya untuk menilai alternatif-alternatif tindakan secara realistis.

Menurut Deddy Mulyana (1999) groupthink dapat didefinisikan sebagai suatu situasi dalam proses pengambilan keputusan yang menunjukan timbulnya kemerosotan efisiensi mental, pengujian realitas, dan penilaian moral yang disebabkan oleh tekanan-tekanan kelompok.

Menurut Jalaluddin Rakhmat (2005) groupthink adalah proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif, dimana anggota-anggota berusaha mempertahankan konsensus sehingga kemampuan kritisnya menjadi tidak lagi efektif lagi.

Menurut West dan Turner (2008) mendefinisikan bahwa pemikiran kelompok atau groupthink sebagai suatu cara pertimbangan yang digunakan anggota kelompok ketika keinginan mereka akan kesepakatan melampaui motivasi mereka untu menilai semua rencanan tindakan yang ada.

II. Esensi Teori

Teori pemikiran kelompok berhubungan erat dengan cara berkomunikasi suatu kelompok. Teori ini lahir didorong oleh kajian secara mendalam tentang komunikasi kelompok yang dikembangkan oleh Raimond Cattel (Santoso & Setiansah, 2010:66). Dalam penelitiannya, ia memfokuskan pada kepribadian kelompok sebagai tahap awal. Hasil dari penelitiannya menunjukan bahwa pola-pola tetap dari perilaku kelompok yang dapat diprediksi, yaitu:

  1. Sifat-sifat dari kepribadian kelompok.
  2. Struktural internal hubungan antaranggota.
  3. Sifat keanggotaan kelompok.

Temuan teoritis tersebut masih belum mampu memberikan jawaban atas suatu pertanyaan yang berkaitan dengan pengaruh hubungan antarpribadi dalam kelompok. Hal inilah yang memunculkan suatu hipotesis dari Janis untuk menguji beberapa kasus terperinci yang ikut memfasilitasi keputusan-keputusan yang dibuat kelompok.

Berdasarkan penelitian yang berkembang pada periode selanjutnya, ada beberapa hipotesis mengenai faktor-faktor determinan yang terdapat pada pikiran kelompok.

a. Faktor antesenden.

Kalau hal-hal yang mendahului ditujukan untuk meningkatkan pikiran kelompok, maka keputusan yang dibuat oleh kelompok akan bernilai buruk. Akan tetapi kalau hal-hal yang mendahului ditujukan untuk mencegah pikiran kelompok, maka keputusan yang akan dibuat oleh kelompok akan bernilai baik.

b. Faktor kebulatan suara

Kelompok yang mengharuskan suara bulat justru lebih sering terjebak dalam pikiran kelompok, dari pada yang menggunakan sistem suara terbanyak.

c. Faktor ikatan sosial-emosional

Kelompok yang ikatan sosial emosionalnya tinggi cenderung mengembangkan pikiran kelompok. Sedangkan kelompok yang ikatannya lugas dan berdasarkan tugas belaka cenderung lebih rendah pikiran kelompoknya.

d. Toleransi terhadap kesalahan

Pikiran kelompok lebih besar kalau kesalahan-kesalahan dibiarkan dari pada tidak ada toleransi atas kesalahan-kesalahan yang ada.

III. Asumsi Teori

Hasil pengujian yang dilakukan Janis menunjukkan bahwa terdapat suatu kondisi yang mengarah pada munculnya kepuasan kelompok yang baik. Asumsi penting dari groupthink, sebagaimana dikemukakan Turner dan West (2008: 276) adalah:

  1. Terdapat kondisi-kondisi di dalam kelompok yang mempromosikan kohesivitas tinggi.

Ernest Bormann (1996), anggota kelompok sering kali memiliki perasaan yang sama/investasi emosional dan sebagai akibat memilki kecenderungan untuk mempertahankan identitas kelompok.

“Pemikiran kolektif biasanya menyebabkan kelompok memiliki hubungan yang baik dan memungkinkan memiliki kohesivitas tinggi.”

Kohesivitas/cohesiveness adalah batas dimana suatu anggota suatu kelompok bersedia untuk bekerja sama. (kohesi berasal dari sikap, nilai, dan pola perilaku)

  1. Pemecahan masalah kelompok pada intinya merupakan proses yang menyatu.

Dennis Gouran (1998), kelompok rentan terhadap batasan afiliatif yang berarti lebih memilih menahan masukan mereka daripada mengambil risiko ditolak.

“Memberikan perhatian lebih pada pemeliharaan, daripada isu-isu yang sedang dipertimbangkan.”

Batasan afiliatif (affiliatif constraints) adalah merujuk ketika para anggota memilih untuk menahan masukan mereka daripada menghadapi penolakan dari kelompok.

  1. Kelompok dan pengambilan keputusan oleh kelompok sering kali bersifat kompleks.

Marvin Shaw (1998), Janet Fulk serta Joseph McGrath (2005), banykan pengaruh yang terdapat dalam kelompok kecil diantaranya usia, sifat, kompetitif, ukuran, kecerdasan, komposisi gender, gaya kepemimpinan yang ada di dalam kelompok.

IV. Faktor Terbentuknya Pemikiran Kelompok

Ada tiga faktor yang mendukung terjadinya teori pemikiran kelompok antara lain:

  1. Kohesifitas tinggi

Kohesifitas atau keterpaduan kelompok dapat menuntun suatu kelompok pada sebuah teori pemikiran kelompok. Dalam sebuah kelompok yang memiliki kohesifitas tinggi maka tugas-tugas anggota dikerjakan dengan penuh semangat dan antusias. Walau memang keuntungannya bisa mengerjakan tugasnya dengan baik tetapi ada tekanan terhadap sesama anggota untuk memenuhi standar kelompok. Biasanya anggota kelompok jadi mengikuti keputusan kelompok daripada mengemukakan pendapat yang bertentangan alasannya karena takut adanya penolakan dari kelompok.

  1. Faktor struktural

Karakteristik struktural spesifik atau kesalahan mendorong terjadinya teori pemikiran kelompok. Faktor ini juga berhubungan dengan isolasi kelompok, yakni:

a. Isolasi kelompok (isolation group)

Sebuah kelompok menutup kelompoknya dari pendapat dari kelompok luar yang memengaruhi keputusan kelompok. Padahal ada kemungkinan pendapat kelompok luar tersebut membantu pengambilan keputusan.

b. Kekurangan kepemimpinan imparsial (lack of imparsial leadership)

Sebuah kelompok dipimpin oleh pemimpin yang memiliki minat pribadi terhadap hasil akhir. Pemimpin seperti ini tidak akan mendengarkan opini alternatif lain dari anggota kelompok.

c. Kurangnya prosedur pengambilan keputusan (lack of decision making procedure)

Tidak adanya prosedur dalam mengambil keputusan dalam suatu kelompok dan kegagalan untuk memiliki norma yang berpengaruh dalam mengevaluasi masalah.

d. Homogenitas latar belakang (homogeneity of members background)

Tanpa keragaman latar belakang sosial, pengalaman, dan ideologi akan mempersulit pengambilan keputusan yang diambil dari sudut pandang yang berbeda.

  1. Tekanan kelompok

Jika dalam sebuah kelompok yang sedang berdiskusi mengambil keputusan suatu masalah sedang mengalami tekanan yang berat dari dalam atau pun dari luar kelompok maka keputusan yang diambil cenderung karena terdesak emosi anggota kelompok sedang tidak stabil.

V. Kritik

Sebagaimana teori lainnya, teori pemikiran kelompok juga ada yang mengritik oleh beberapa orang seperti:

  1. Aldag dan Fuller (1993)

Menurut Aldag dan Fuller, analisis teori pemikiran kelompok bersifat retrospektif (berlaku surut), Janis cenderung mengambil bukti-bukti yang mendukung teorinya saja. Keterpaduan dalam sebuah kelompok belum tentu menimbulkan pemikiran kelompok contohnya perkawinan dan keluarga. Keluarga tetap terpadu dan kohesif tanpa menimbulkan pemikiran kelompok dan tetap menerima perbedaan pendapat tanpa mengurangi keterpaduan itu sendiri.

  1. Tetlock, dkk (1992)

Menurut Tetlock dkk berpendapat bahwa ada fakta sejarah sebuah kelompok yang sudah mengikuti prosedur pengambilan keputusan dengan baik tetapi melakukan kesalahan. Contohnya adalah Presiden Amerika Serikat Carter dan para penasehatnya merencanakan permbebasan sandera di Iran pada tahun 1980. Operasi itu gagal total dan Amerika Serikat dipermalukan, walaupun Carter sudah mengundang berbagai mendapat dari luar dan memperhitungkan segala kemungkinan secara realistis.

  1. Raven (1998)

Menurut Raven walaupun memiliki beberapa kelemahan teori pemikiran kelompok yang diteliti oleh Janis ini mampu memberikan kerangka literatur, proses kelompok, dan dinamika kelompok untuk memahami teori pemikiran baru dalam masalah sosial politik yang signifikan.

VI. Gejalan-gejala

Janis memaparkan gelaja-gejala yang terjadi pada sebuah kelompok sedang berada dalam pemikiran kelompok. Delapan gejala tersebut adalah:

  1. Persepsi yang keliru (illusions), bahwa ada keyakinan kalau kelompok tidak akan terkalahkan.
  2. Rasionalitas kolektif, dengan cara membenarkan hal-hal yang salah sebagai seakan-akan masuk akal.
  3. Percaya pada moralitas terpendam yang ada dalam diri kelompok.
  4. Streotip terhadap kelompok lain (menganggap buruk kelompok lain).
  5. Tekanan langsung pada anggota yang pendapatnya berbeda dari pendapat kelompok.
  6. Sensor diri sendiri terhadap penyimpangan dari sensus kelompok.
  7. Ilusi bahwa semua anggota kelompok sepakat dan bersuara bulat.
  8. Otomatis menjaga mental untuk mencegah atau menyaring informasi-informasi yang tidak mendukung, hal ini dilakukan oleh para penjaga pikiran kelompok (mindguards).

VII. Dampak Negatif

Hasil dari analisis Janis meneliti pemikiran kelolompok dalam pengambilan keputusan terdapat beberapa dampak negatif, seperti:

  1. Diskusi amat terbatas pada beberapa alternatif keputusan saja.
  2. Pemecahan masalah yang sejak semula sudah cenderung dipilih, tidak lagi dievaluasi atau dikaji uang.
  3. Alternatif pemecahan masalah yang sejak semula ditolak, tidak pernah dipertimbangkan kembali.
  4. Tidak pernah mencari atau meminta pendapat para ahli dalam bidangnya.
  5. Kalau ada nasehat atau pertimbangan lain, penerimaannya diseleksi karena ada bias pada pihak anggota.
  6. Cenderung tidak melihat adanya kemungkinan-kemungkinan dari kelompok lain akan melakukan aksi penantangan, sehingga tidak siap melakukan antisipasinya.
  7. Sasaran kebijakan tidak disurvei dengan lengkap dan sempurna.

VIII. Cara Mencegah Terjadinya Pemikiran Kelompok

Menurut Janis permasalahan pemikiran kelompok ini bisa diselesaikan dengan mengikuti langkah-langkah dalam pengambilan keputusan, yaitu:

  1. Mendorong semua orang untuk menjadi evaluator kritis dan menunjukan tempat mereka kapan pun mereka hadir.
  2. Tidak memiliki pemimpin yang menyatakan sebuah pilihan di muka umum.
  3. Menyusun pembuatan kebijakan kelompok yang independen dan terpisah.
  4. Membagi ke dalam kelompok kecil.
  5. Membahas apa yang sedang terjadi dengan yang lainnya di luar kelompok.
  6. Mengundang orang luar ke dalam kelompok untuk memberikan ide-ide segar.
  7. Menilai individu setiap kali ada pertemuan yang menjadi pengacara setan.
  8. Menghabiskan waktu yang dibutuhkan untuk melihat tanda-tanda peringatan.
  9. Memegang kesempatan kedua untuk mempertimbangkan kembali keputusan sebelum mengakhirinya.

Menurut Paul T’ Hart (1990) cara mencegah terjadinya pemikiran kelompok ada empat rekomendasi umum antara lain:

  1. Dibutuhkan supervisi dan kontrol.

Membentuk komite parlementer: mengembangkan sumber daya secara proaktif memonitor proses pembuatan yang berkesinambungan, memberikan dukungan untuk adanya intervensi, mengaikan nasib pribadi dengan nasib anggota-anggota kelompok yang lain.

  1. Mendukung adanya pelaporan kecurangan dalam kelompok

Suarakan keraguan: hindari menekan kekhawatiran mengenai proses-proses yang dilaksanakan oleh kelompok, teruslah untuk tidak sepakat dan mendebat ketika tidak ada jawaban yang memuaskan, pertanyakan asumsi.

  1. Menerima adanya keberatan dalam kelompok.

Lindungi conscientious objectors: berikan jalan keluar bagi anggota kelompok, jangan menganggap remeh implikasi moral dari sebuah tindakan, dengarkan kekhawatiran pribadi mengenai isu-isu etis di dalam kelompok.

  1. Menyeimbangkan suara konsensus dan suara mayoritas.

Mengubah pilihan pengaturan peraturan: kurangi tekanan kepada kelompok yang berada pada posisi minoritas, mencegah terjadinya pembentukan subkelompok, memperkenalkan adanya pendekatan yang mendukung munculnya banyak pendapat dalam pengambilan keputusan.

IX. Contoh Peristiwa

Berbagai peristiwa penting terjadi karena pengambilan keputusan yang salah yang disebabkan keputusan kelompok kecil seperti:

  1. Pearl Harbour (1941)

Penyerangan Pearl Harbour tahun 1941 bulan Desember menyebabkan Amerika Serikat terlibat Perang Dunia II. Padahal sebelumnya intelijen Amerika Serikat melaporkan kabar tentang persiapan Jepang menyerang Amerika Serikat di kawasan Pasifik. Namun, laporan tersebut tidak dipertimbangkan para komandan Amerika Serikat karena menganggap bahwa pesawat Jepang diyakini tidak bisa terbang sampai Pearl Harbour.

  1. Meledaknya pesawat ruang angkasa Challenger (1986)

Pesawat ruang angkasa Challenger yang meledak tahun 1986 terjadi karena dua petinggi NASA, George Hardy dan Larry Mulloy tetap memaksakan Challenger untuk terbang alasannya karena agar tepat waktu. Padahal sebelumnya pihak Morton Thiokol (MT), perusahaan pembuat roket peluncuran Challenger meminta penundaan terbangnya pesawat hingga siang hari ketika suhu udara berada di 53 derajat Fahrenheit agar O-rings tetap berfungsi menjaga agar gas panas di dalam roket peluncur tidak melebar ke luar.

X. Daftar Pustaka

Griffin, E. A. 2003. A First Look at Communication Theory (5th Edition). Boston: McGraw-Hill.

Littlejohn, Stephen W., dan Karen A. Foss. Teori Komunikasi. Jakarta: Salemba Humanika.

Mulyana, Deddy. 1999. Nuansa-nuansa Komunikasi: Meneropong Politik dan Budaya Komunikasi Masyarakat Kontemporer. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Poyouno, F.X. Arief. 2011. Teori Pemikiran Kelompok, Tugas Mata Kuliah Perspektif Teori Komunikasi, Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Jayabaya Jakarta.

Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

West, Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s