Analisis Novel 1984 dan Brave New World

Novel 1984 dan Brave New World bercerita mengenai dunia distopia, sebuah dunia kelam yang dikendalikan penguasa dengan berbagai macam cara kotornya menjaga negara agar terkesan sejahtera, aman dan nyaman. Dunia distopia merupakan kebalikan dari dunia utopia, sebuah dunia impian karena semuanya serba sempurna.

Ada beberapa perbedaan antara dunia distopia dan utopia seperti berikut:

Pemerintah sebagai pengendali Pemerintah damai
Kesenjangan antara warga miskin dan kaya Kesetaraan bagi warga negara
Propaganda mengandalikan pikiran orang Akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan sebagainya
Pemikiran bebas dan independen dilarang Lingkungan yang aman

Sumber: study.com

Novel 1984 karya George Orwell bercerita tentang seseorang yang bernama Winston Smith yang merupakan seorang pekerja departemen catatan di bawah kementerian kebenaran, salah satu dari empat kementerian yang dipimpin oleh Bung Besar. Pria berusia 39 ini adalah orang yang bekerja dengan baik untuk pekerjaannya dan termasuk orang yang taat menjalani peraturan yang dibuat partai dalam kehidupannya. Namun sebenarnya, ia adalah seorang anomali. Ia mulai merasakan keganjilan terhadap kehidupannya yang dikuasai partai pimpinan Bung Besar.

Winston Smith tinggal di London yang merupakan daerah di negara Oceania. Selain Oceania, dalam novel karya George Orwell ini dua negara lain yaitu Eurasia dan Eastasia. Negara Oceania dijalankan oleh sebuah partai pimpinan Bung Besar. Dalam menjalankan pemerintahannya, Bung Besar memiliki empat kabinet yang mengatur segala sistem kehidupan rakyat negara Oceania. Pertama, Kementerian Kebenaran yang mengurusi berita, hiburan, pendidikan, dan seni. Kedua, Kementerian Perdamaian yang bertugas menangani perang. Ketiga, Kementerian Cinta Kasih yang bertugas mengurus hukum dan ketertiban. Keempat, Kementerian Tumpah Ruah yang bertanggung jawab dalam bidang ekonomi. Dalam bahasa Newspeak empat kementerian tersebut disingkat menjadi: Minitrue, Minipax, Miniluv, dan Miniplenty.

Bung Besar sebagai pimpinan Oceania berusaha mempertahankan rezimnya dengan berbagai cara salah satunya menciptakan alat yang bernama teleskrin, alat yang digunakan untuk membatasi gerak dan pikiran setiap orang yang berada di dekatnya. Teleskrin ditempatkan di daerah kekuasaan partai hingga dalam kamar dan tempat-tempat lainnya. Selain itu, teleskrin juga merupakan sebuah alat propaganda Bung Besar dalam menyebarkan informasi.

Dalam berkomunikasi, partai juga mengatur penggunaan bahasa yaitu dengan menciptakan bahasa Newspeak. Bahasa yang menggantikan bahasa Oldspeak. Kamus bahasa Newspeak sudah sepuluh kali diperbaharui, kosa kata semakin dibatasi dan maknanya pun diubah sesuai kehendak partai. Bahasa ini memaksa setiap kelas masyarakat menerapkan konsep doublethink.

Tak jauh berbeda, dalam novel Brave New World karya Aldous Huxley juga memiliki latar dunia yang sama yaitu dunia distopia tetapi cara pengemasannya berbeda. Kedua penulis novel ini merupakan guru dan murid jadi wajar kedua novel ini memiliki kesamaan. Brave New World bercerita pria bernama Bernard Marx yang merupakan seorang Alfa Plus yang bertemu dengan Linda dan John (Si Liar). Mereka berdua adalah orang yang sangat berbeda dengan masyarakat pada masa After Ford (AF).

Bernard hidup di zaman dimana ada sebuah sistem tatanan sosial yang mengatur hidup seseorang dalam menjalankan hidupnya. Sistem tersebut adalah lima kasta sosial yaitu, Alfa, Beta, Gama, Delta, dan Epsilon. Setiap kasta memiliki gaya hidup dan tanggung jawab yang berbeda. Alfa merupakan kasta teratas yang mampu menjadi pemimpin dan pemikir sedangkan Epsilon adalah kasta terbawah yang pasti menjadi buruh. Setiap anak yang terlahir sudah didoktrin oleh perawat agar tumbuh sebagai orang yang tahu posisi dan pekerjaan mereka di masyarakat.

Kontrol dunia dalam novel karya Aldous Huxley ini dikuasai oleh After Ford (AF). Sebuah kontrolir dunia yang berusaha menciptakan masyarakat yang ideal dengan cara membagi manusia ke dalam lima kasta yang ada. Di seluruh laboratorium dunia, manusia dikembangkan secara sempurna sesuai kehendak kontrolir. Manusia sengaja didesain dan didik sesuai kastanya agar dapat diatur dengan mudah.

Dari cerita kedua novel ini, saya jadi teringat film The Hunger Games, Divergent, dan Maze Runner. Ketiga film tersebut diangkat berdasarkan novel laris yang mengetengahkan dunia distopia serupa dengan novel 1984 dan Brave New World. Seluruh kehidupan masyarakat diatur sedemikian rupa oleh sebuah pemerintahan agar dunia terbentuk sebuah tatanan masyarakat yang ideal. Namun, pasti di setiap cerita ada seorang anomali yang memulai cerita. Kebebasan adalah sesuatu yang paling dicari dari cerita yang bertemakan dunia distopia.

Para penguasa dalam kedua novel ini berusaha mempertahankan rezimnya dengan kekuasaan otoriter dan totaliter. Rakyat ditundukan dengan berbagai macam tekanan yang diberikan agar negara tetap berjalan aman tanpa pemberontakan. Penguasa membentuk sebuah sistem dan aturan untuk mengekang gerak-gerik masyarakatnya. Propaganda pun dilancarkan demi menjaga stabilitas keamanan dengan cara mendoktrin pikiran masyarakat.

Dalam mempertahankan rezimnya, para penguasa pemerintahan 1984 dan Brave New World berusaha mengendalikan informasi dan cara paling ampuh adalah mengendalikan bahasa. Bahasa merupakan landasan utama dalam berkomunikasi. Dalam buku Cendikiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru karya Daniel Dhakidae dijelaskan bahwa bahasa dapat digunakan sebagai alat kekuasaan dengan menerapkan tiga prinsip yaitu, akronim, eufimisme, dan disfemisme.

Dalam konteks ini akronim berarti penggabungan kata yang menjauhkan dari makna yang sebenarnya. Eufimisme adalah sebuah ungkapan halus digunakan sebagai pengganti ungkapan yang dianggap kasar. Disfemisme berbanding terbalik dengan eufimisme yaitu sebuah ungkapan kasar yang digunakan sebagai pengganti ungakapan halus.

Proses akronim pada novel Brave New World, ketika ada kata-kata yang tidak umum diketahui oleh seluruh kasta. Misalnya pada kata “kimia” untuk Linda dan John, mereka tidak mengerti apa makna dari kata “kimia”. Istilah tersebut dipahami tidak utuh alasannya karena kasta sosial. Huxley tidak menggunakan prinsip eufimisme tetapi prinsip disfemisme, yaitu ungkapan kasar yang sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu. Misalnya, kata “ayah”, “ibu”, “orang tua”, “pernikahan” dan lain-lain dimaknai sebagai sesuatu yang tabu. Begitu juga dengan kata “ford” diartikan sebagai Tuhan.

Dalam cerita Winston Smith dalam novel 1984, bahasa digunakan sebagai alat represif penguasa sangat terlihat. Pengubahan makna dari bahasa Oldspeak menjadi bahasa Newspeak yang sudah dikonstruksi sesuai kehendak penguasa dalam cerita ini Bung Besar. Kekuasaan partai Bung Besar berusaha melanggengkan kekuasaanya dengan cara mengubah pemaknaan sebuah kata dalam bahasa. Bahasa menjadi kekuatan yang dahsyat dalam membentuk sebuah rezim yang kokoh. Hal itu dapat dilihat dari sebuah percakapan antara Winston dan Syme berikut:

“Edisi kesebelas ini adalah edisi yang sudah pasti,” ucapnya. “Kita sedang memberikan bentuk final pada bahasa itu–satu-satunya bentuk bahasa yang akan digunakan orang pada saatnya nanti. Kalau nanti kami sudah merampungkannya, orang seperti kamu harus mempelajarinya lagi dari awal. Saya berani memastikan, kamu pasti berpikir kerja utama kami ialah menciptakan kata-kata baru. Sama sekali tidak! Kami menghancurkan kata-kata–banyak, ratusan kata setiap harinya. Kami sedang memotong bahasa, menyayatnya, sampai ke tulangnya. Edisi kesebelas ini tidak akan memuat satu kata pun yang sudah akan using sebelum 2050.” (Orwell, hlm 62)

Kamus Newspeak kesebelas memperlihatkan jelas bagaimana sebuah bahasa digunakan sebagai alat untuk mereduksi makna. Tujuannya adalah menjaga stabilitas dengan mematikan pengetahuan dan pengalaman mengenai sejarah dengan bahasa yang jauh berbeda dengan masa ketika bahasa Oldspeak masih digunakan. Hal ini merupakan sebuah contoh dari represif informasi yang dilakukan Bung Besar terhadap rakyatnya.

Pada tatanan masyarakat karya Orwell, ada tiga jenis praktik bahasa yang ciptakan penguasa. Bahasa Newspeak digunakan untuk kelas A, kelas B, dan kelas C. Prinsip akronim digunakan untuk kelas A dan B misalnya untuk kelas A, kata “bebas” tidak dapat digunakan untuk semua kalimat tetapi dibatasi dengan ketat. Tidak ada kalimat “bebas berpendapat” atau “bebas berpolitik”. Pemerintah berusaha mengalienasi masyarakat mengenai keberagaman makna pada sebuah kata karena kata “bebas” dapat mengganggu keamanan rezim.

Untuk kelas A dan B penggunaan akronim lebih terlihat jelas dengan menggunakan kata yang sudah dikonstruksi maknanya seperti Doublethink dan Crimestop. Kedua istilah tersebut merupakan bagian dari sebuah doktrin yang diciptakan penguasa Bung Besar. Istilah Doublethink berarti memanipulasi diri misalnya Winston mengetahui bahwa 2+2=4 dan kita para pembaca juga sepakat bahwa itu adalah jawaban yang benar. Namun, ketika Bung Besar dan partai mengganti 2+2=5 otomatis pernyataan tersebut adalah sesuatu harus dipercaya benar oleh Winston sekalipun Winston mengetahui bahwa itu salah. Proses tersebut adalah proses Doublethink.

Proses Doublethink berkaitan dengan kajian Stuart Hall mengenai encoding dan decoding yaitu teori penerimaan pesan. Pada teori ini Hall menekankan pada peran penerima pesan dalam proses penerimaan pesan. Setelah pesan diterima, proses selanjutnya adalah pemaknaan pesan yang bergantung pada pengalaman dan referensi sang penerima pesan. Kekayaan objek tergantung kekayaan subjek.

Hall juga menjelaskan mengenai tiga posisi hipotesis antara pembuat teks dan penerima yaitu dominant-hegemonic position, negotiated position code position, dan oppositional position. Perbedaannya adalah jika dominant-hegemonic ­penerima pesan sepenuhnya menerima pesan tersebut. Jika negotiated position code position penerima pesan menerima pesan tersebut tetapi juga menolak di sisi lain. Dan jika oppositional position penerima pesan menolak pesan tersebut karena dinilai tidak mengerti pesan yang disampaikan.

Pada kasus Doublethink, penerima pesan berarti termasuk dalam posisi negotiated position code position sesuai yang dijelaskan Stuart Hall dalam teori Encoding/Decoding. Penguasa memang mampu memaksakan pemahamannya kepada rakyat Oceania tetapi di sisi lain rakyat bisa menolak apa yang dipaksakan pemerintahnya seperti Winston.

Proses komunikasi pada tatanan kelas B dan C. Kosa kata empat kementerian yaitu Kementerian Kebenaran, Kementerian Perdamaian, Kementerian Cinta Kasih, dan Kementerian Tumpah Ruah memiliki kata yang bagus secara arti harfiah. Padahal pelaksaannya keempat kata kementerian tersebut menggunakan prinsip eufimisme. Misalnya Kementerian Kebeneran yang mengurusi berita, hiburan, pendidikan, dan seni. Padahal kementerian ini sebenarnya bekerja memanipulasi informasi sesuai dengan kehendak penguasa. Begitu juga dengan Kementerian Perdamaian yang sebenarnya bekerja untuk berperang. Hal itu berbanding terbalik dengan kata yang digunakan yaitu “perdamaian”.

Kementerian Cinta Kasih yang mengatur hukum dan ketertiban. Penguasa memang menjalankan hukum tetapi tidak ada keadilan dalam pengaturan hukum yang dijalankan, semuanya atas nama Bung Besar. Siapapun yang dianggap pemberontak langsung “diamankan”. Terakhir, Kementerian Tumpah Ruah yang tugasnya sangat mulia yaitu menjelankan roda perekonomian. Padahal hasil dari bisnis yang dijalankan hanya untuk para penguasa. Hal ini dapat dilihat dari makanan yang dicuri Julia dari partai inti.

Pembagian kerja berdasarkan tugas yang berbeda ini dalam setiap kementerian berhubungan dengan teori ekonomi politik. Ada tiga proses utama dalam komunikasi ekonomi politik yaitu, pertama, commodification adalah proses transformasi dari suatu barang yang bernilai menjadi barang yang dapat dipasarkan dengan nilai yang lebih tinggi sehingga dapat diperjualbelikan/dipertukarkan. Kedua, spatialiization adalah proses dari penyelesaian permasalahan jarak georgrafis, seperti adanya media massa dan teknologi. Ketiga, structuration adalah proses pembentukan hubungan-hubungan sosial yang terdapat di kelas sosial, gender, dan ras.

Proses komunikasi ekonomi politik dapat dilihat dari cara kerja kementerian. Misalnya tempat Winston bekerja menuliskan kembali berita yang sesuai keinginan penguasa di Departemen Catatan. Departemen Catatan adalah salah satu departemen yang ada di bawah pengawasan Kementerian Kebenaran. Komodifikasi dari contoh tersebut adalah pekerjaan menuliskan kembali berita yang sudah ditulis sesuai keinginan penguasa. Spasialisasinya adalah ada departemen khusus yang mengerjakan hal tersebut. Konteksnya dalam hal ini adalah ruang. Proses strukturisasinya adalah Departemen Catatan berada di bawah pengawasan Kementerian Kebenaran. Ada struktur yang mengatur semua pekerjaan berjalan.

Dua novel karya George Orwell dan Aldous Huxley diciptakan dengan tingkat kompleksitas yang tinggi. Dunia distopia yang digambarkan pada kedua novel ini berusaha menjelaskan situasi yang mungkin terjadi pada kehidupan saat ini. Jika dilihat dari latar belakang kedua penulis ini yang berasal dari inggris, mereka berdua merupakan orang yang hidup pada masa awal revolusi industri. Perubahan tersebut mempengaruhi keduanya dalam menuliskan sebuah cerita yang kelam ditengah kuatnya dominasi penguasa.

Daftar Pustaka

Dhakidae, Daniel. 2003. Cendikiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Hall, Stuart. 2000. Encoding/Decoding. Dalam Paul Marris & Sue Thornham, Media Studies A Reader. NY: New York Univ Press Chapter 5.

Huxley, Aldous. 2015. Brave New World. Yogyakarta: Penerbit Bentang.

Orwell, George. 2014. 1984. Yogyakarta: Penerbit Bentang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s