Multimedia Storytelling dalam Praktek Jurnalistik Online

Sumber foto: foto.tempo.co


Setiap perjalanan manusia diwariskan dengan ingatan dan catatan. Sebelum manusia mengenal aksara pada zaman pra sejarah, kehidupan manusia disampaikan lewat sebuah cerita dari ingatan pengalaman dan pengetahuan dari satu manusia ke manusia lainnya. Cerita terus disampaikan dari generasi ke generasi sebagai sebuah warisan yang diturunkan dari leluhur kepada generasi saat ini. Setelah manusia mengenal tulisan, kemudian manusia mulai bercerita lewat sebuah catatan tertulis.

Manusia mulai mencatat perjalanannya lewat sebuah kata-kata yang mampu dilihat dan juga dibaca. Komunikasi antargenerasi manusia disampaikan lewat karya tulisan. Tulisan menjadi aset sejarah yang penting dan bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya. Manusia selalu bergerak dinamis karena itu pengetahuan dan pengalaman manusia sebelumnya dibutuhkan agar mencapai sebuah perkembangan pada setiap kehidupan manusia.

Ketika seorang manusia lahir ke dunia, ia akan selalu membutuhkan sesuatu dan seseorang untuk hidup. Manusia adalah makhluk sosial karena itu selalu membutuhkan seseorang dalam kehidupannya dan juga membutuhkan sesuatu yaitu untuk kebutuhan jasmani dan rohani manusia. Manusia butuh makanan untuk menjaga badannya agar tetap sehat dan kuat. Selain itu, manusia juga butuh kesehatan untuk rohaninya, misalnya mendapatkan informasi baru.

Kebutuhan informasi senantiasa terpenuhi dengan adanya tulisan. Dengan tulisan, manusia dapat dengan mudah menyampaikan informasi kepada seseorang lewat sebuah surat misalnya. Pada zaman kerajaan dulu, pertukaran informasi antarkerajaan biasanya menggunakan surat sebagai media. Begitu juga sejarah panjang jurnalistik dunia, media pertama yang diciptakan adalah Acta Diurna yang merupakan media perpanjangan tangan Kekaisaran Romawi. Informasi yang disampaikan sebatas kebijakan senat, peraturan pemerintah, berita kelahiran dan kematian.

Sejak dibuatnya Acta Diurna, dunia jurnalistik terus berkembang sampai ditemukannya mesin cetak massal yang mampu memproduksi surat kabar dengan cepat dan banyak. Mesin tersebut diciptakan oleh Johannes Gutenberg yang merupakan seorang pandai logam dari Jerman. Dengan alat temuannya ini, media massa dapat memproduksi beritanya lebih efektif dan efisien,

Dunia jurnalistik terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu mengikuti perkembangan teknologi baru. Media cetak mulai mendapat saingan ketika ada radio yang mampu menyampaikan informasi melalui suara. Suara-suara tersebut dipancarkan lewat gelombang udara. Setelah radio, lahirlah media televisi yang kemudian mampu menyampaikan informasi lewat sebuah gambar bergerak dan juga suara yang jernis. Manusia dapat melihat realitas dengan gambaran paling nyata saat itu. Jurnalistik juga menggunakan televisi sebagai media untuk menyampaikan informasi kepada publik.

Selang beberapa tahun, manusia menciptakan teknologi baru yang dinamakan internet. Kemajuan ini juga diikuti dunia jurnalistik yang memang akrab dengan dunia teknologi. Kini dengan internet, manusia dapat beraktivitas dalam dunia jurnalistik lebih cepat dan jangkauannya lebih luas. Informasi menjadi sangat banyak dan merebak dimana-mana. Segala informasi dapat ditemukan di internet, mesin pencari google atau yahoo semakin memudahkan manusia dalam memenuhi kebutuhannya.

Sampai saat ini, internet sudah sering digunakan untuk media massa. hal ini ditandai dengan banyaknya media dalam jaringan bermunculan, contohnya seperti Detik.com yang menandakan dimulainya media massa dalam jaringan di Indonesia. Media dalam jaringan pun semakin dibantu dengan maraknya media sosial di dunia. Berbagai macam media sosial muncul dengan jumlah pengguna yang semakin luas dan banyak. Media sosial membantu menyebarkan informasi langsung kepada khalayaknya. Media massa menjadi lebih dekat dengan konsumennya.

Di era banjirnya informasi seperti ini, masyarakat pun mulai pandai membatasi diri dan menyeleksi informasi yang memang dibutuhkan untuk dirinya atau tidak. Semakin banyak media massa semakin banyak pula berita yang disampaikan. Media massa menjadi media yang membosankan dengan bentuk dan konten yang selalu begitu tidak berubah.

Ada dua hal yang menurut saya signifikan mengubah khalayak mengonsumsi sebuah informasi. Pertama adalah budaya visual yang kian tumbuh pesat sejak ditemukannya televisi. Televisi mampu menawarkan pengalaman nyata di depan layar sehingga pengaruhnya sangat besar terhadap khalayak. Kedua adalah khalayak ingin terlibat dengan media massa secara langsung. Saat ini, media massa tidak berjalan satu arah tetapi khalayak juga aktif dalam menyuarakan pendapatnya lewat media massa. Media massa harus mampu berinteraksi dengan khalayaknya untuk menarik perhatian konsumennya.

Budaya Visual

Pernah suatu hari saat SMA, saya iseng pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan bacaan. Setelah mencari buku di perpustakaan, saya tidak menemukan buku yang menarik perhatian tapi saat berjalan keluar perpustakaan, saya melihat majalah Provoke yang desain sampulnya menarik. Tak ingin kehabisan, saya langsung mengambil dan membacanya. Desain sampul majalah Provoke yang keren dan unik membuat saya tertarik untuk membacanya.

Hal pertama yang menarik perhatian pembaca pertama adalah sampul. Sampul merupakan bagian penting dari majalah, surat kabar atau media cetak lainnya. Desain yang bagus mampu menarik perhatian target khalayaknya seperti majalah Provoke tersebut yang segmentasi khalayaknya adalah siswa SMA. Setidaknya pengalaman saya di sekolah dapat menggambarkan pentingnya sampul pada era jurnalisme saat ini.

Dalam buku Mindset karya John Naisbitt, ia pernah menjelaskan tentang budaya visual mengambil alih dunia saat ini. Seiring perkembangan teknologi, saat ini manusia lebih menyukai hal visual seperti film dan televisi. Perkembangan tersebut membuat manusia jarang membaca, akibatnya di Amerika terjadi penurunan tingkat membaca sampai 10% dari tahun 1982 sampai 2002. John Naisbitt juga mengatakan sejarah peradaban adalah sejarah komunikasi. Jika komunikasi bergerser dari kata ke visual, kita perlu belajar bahasa baru untuk berinteraksi.

Manusia memang berkomunikasi lebih sering menggunakan bahasa non-verbalnya hampir sekitar 80%. Karena itu, manusia memang lebih menyukai sesuatu yang rupanya dapat dilihat indra penglihatan. Manusia bukanlah makhluk yang tidak ada batasnya, begitu juga dengan indra penglihatan kita. Apa yang kita lihat belum tentu hal yang benar-benar terjadi. Contohnya seperti video seorang jurnalis televisi yang menyandung seseorang yang sedang berlari mengendong anaknya hingga jatuh. Gambar tersebut memang terjadi tapi sebenarnya rekayasa.

Perkembangan visual juga terjadi di dalam dunia jurnalistik. Saat ini, majalah semakin beragam dengan sampul yang menarik perhatian. Selain itu, sekarang ada yang namanya infografis yaitu informasi yang dibuat visualnya, tujuannya untuk menarik perhatian dan memudahkan pembaca dalam memahami informasi. Infografis hanya salah satu budaya visual yang kini digunakan dalam dunia jurnalisme, masih banyak lagi yang lain.

Saat ini ada jurusan yang bernama New Art Journalism Department di Amerika tepatnya School of Art Institute of Chicago (SAIC). Perguruan tinggi yang fokus belajar mengenai jurnalisme dalam ruang lingkup seni. Pembelajaran yang ditawarkan tidak hanya mengenai tulisan tetapi juga gambar. Di beberapa perguruan tinggi di luar negeri, art journalism sudah berkembang pesat tetapi di Indonesia sampai saat ini belum ada.

Pentingnya visual saat ini mempengaruhi perkembangan keilmuan termasuk ilmu jurnalistik. Jurnalistik televisi sampai hari ini besar pengaruhnya terhadap sikap masyarakat dalam menentukan sikap. Karena itu, pemerintah seharusnya memberikan pemahaman baru kepada masyarakat mengenai budaya visual. Pemerintah menyosialisasikan mengenai perkembangan media massa saat ini dan bagaimana memilih informasi yang benar. Salah satu upayanya dengan literasi media ke berbagai wilayah di Indonesia.

Bercerita lewat Karya Jurnalistik

“Kita ingin tahu bukan untuk apa kita membaca surat kaar atau menonton televisi, tetapi bagaimana surat kabar dan televisi menambah pengetahuan, mengubah sikap, atau menggerakan perilaku kita. Inilah yang disebut sebagai efek komunikasi massa,” ucap Jalaluddin Rakhmat dalam buku Pengantar Ilmu Jurnalistik karya Dede Mulkan.

Kutipan di atas menunjukan bahwa manusia membutuhkan informasi. Karena itu, kegiatan jurnalistik hadir ke dunia ini untuk mengisi kekosongan itu. Media massa mampu memberi pengaruh besar terhadap manusia. Pada tahapan paling jauh, manusia dapat berubah perilakunya karena informasi dari media massa.

Saya jadi teringat ketika masih di bangku sekolah dasar, saya pernah menonton anime yang berjudul Hunter x Hunter di stasiun televisi. Cerita dari anime tersebut adalah tentang kegigihan seorang anak untuk menjadi seorang pemburu hebat demi menemukan ayahnya. Sederhana memang tapi sebenarnya ada perjuangan dan semangat yang kuat dari seorang anak biasa berubah menjadi seorang anak yang gigih dan berani menghadapi musuh di depannya.

Karena acara anime tersebut, saya banyak mendapatkan pengetahuan baru, sikap saya berubah menjadi semangat untuk bertualang, dan perilaku saya kepada teman-teman pun berubah. Karena tokoh utama Hunter x Hunter, Gon adalah seseorang yang percaya kepada teman-temannya Sebuah karya audio visual memang mudah diterima siapa saja yang menyaksikannya terlebih lagi anak kecil yang mudah dipengaruhi.

Cerita dan karakter yang kuat dari sebuah tayangan televisi mampu mengubah perilaku manusia. Prinsip cerita dan karakter kuat adalah prinsip media bercerita. Prinsip ini digunakan lebih dulu pada karya seni seperti sastra dan film. Sebuah karya sastra seperti cerpen dan novel adalah karya yang mengutamakan kualitas cerita dan karakternya dalam setiap cerita. Begitu juga dengan film, sineas yang ingin mendapatkan hatinya di para penonton perlu membuat cerita dan karakter yang kuat dalam setiap bagiannya.

Dalam dunia jurnalistik, saat ini ada konsep baru yang menawarkan konsep penceritaan dalam karya jurnalistik yang mampu membuat interaksi dengan konsumennya. Media bercerita atau media storytelling adalah media yang mengutamakan karya jurnalistik yang mampu berinteraksi langsung dengan khalayaknya. Interaksi tersebut dibangun dengan cara penceritaan yang bagus dan mampu menggugah perasaan konsumennya. Konsep media storytelling mengutamakan cerita agar pesan diterima oleh penerima pesannya dan penerima terlibat di dalamnya.

Setiap peristiwa dan kejadian yang diliput oleh jurnalis adalah sebuah cerita. Masalahnya hanya bagaimana cerita tersebut disusun agar menjadi karya jurnalistik yang berkualitas. Setiap cerita harus dirangkai agar tercipta interaksi yang baik dengan konsumennya. Komponen cerita adalah integritas, kohesif, dan harmoni. Intinya setiap bagian mampu menjadi sebuah kesatuan cerita yang utuh dan mampu menyentuh persaan konsumennya. Contohnya adalah liputan khusus jurnalis The Guardian yang berjudul NSA Files: Decoded.

Media bercerita ini tidak hanya sekadar memberi pengetahuan atau aspek kognitif saja tetapi mampu menarik persaaan atau aspek afektif. Jika dibuat dengan sepenuh hati maka karya jurnalistik dengan konsep bercerita mampu mengubah perilaku konsumennya lebih efektif dari cara menyampaikan informasi yang lain. Poin utamanya terdapat pada perasaan yang diberikan seorang jurnalis kepada konsumennya lewat karya jurnalistik.

Di masa mendatang, media bercerita akan mulai mengubah perspektif bagaimana karya jurnalistik harus disampaikan. Namun, tantangan karya jurnalistik semakin tinggi karena media bercerita ini sangat dekat dengan karya fiksi yang notabene adalah musuh utama jurnalistik. Jurnalis harus mampu membedakan karya jurnalistik dan karya fiksi dengan cermat dan tepat agar berita yang dihasilkan pun tidak mengelabui khalayak.

Daftar Pustaka

Kusumaningrat, Hikmat dan Purnama Kusumaningrat. 2012. Jurnalistik: Teori dan Praktik. Bandung: Rosda.

Mather, Ogilvy. 2014. Three Old Rules for New Media Storytelling. http://www.slideshare.net/OgilvyWW/three-old-rules-for-new-media-storytelling-sxsw-ogilvysxsw diakses pada 20 Desember 2015.

Mulkan, Dede. 2013. Pengantar Ilmu Jurnalisik. Bandung: Arsad Press.

Naisbitt, John. 2007. Mindset!. Jakarta: Daras Books.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s