Perjuangan Demi Tontonan Bersejarah

Ribuan pengunjung penuhi Jalan Asia Afrika demi menonton video mapping yang merupakan salah satu rangkaian acara peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 di Kota Bandung pada 25 April 2015 di depan Gedung Merdeka. (Foto: M. Rasyid Baihaqi)


Hiruk pikuk suara orang terdengar sepanjang Jalan Asia Afrika. Salah satu penonton berteriak, “Duduk! Duduk! Duduk! Pantatnya nempel di jalan”. Penonton lain ikut berteriak, “Duduk! Duduk! Bukan jongkok ini bukan kamar mandi”. Penonton yang mendengar pun tertawa.

Ribuan warga berkumpul di sepanjang Jalan Asia Afrika untuk memeriahkan peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 di Bandung pada Sabtu 25 April 2015. Sejak matahari terbenam, beberapa jalan menuju Jalan Asia Afrika sudah dipadati kendaraan roda empat dan roda dua bahkan ada banyak orang yang rela berjalan kaki demi menonton video mapping yang akan diputar di depan Gedung Merdeka. Walaupun padat, warga rela berdesak-desakan demi tontonan bersejarah itu.

Gedung Merdeka yang dulu menjadi tempat pertemuan para pejabat negara berubah menjadi layar tancap malam itu. Dinding bercat putih dijadikan sebagai layar yang siap ditembakan cahaya dari proyektor. Lampu-lampu di sekitar Gedung Merdeka dipadamkan. Video mapping pun siap ditayangkan.

Dinas Kebudayaan Kota Bandung bekerja sama dengan Sembilan Matahari untuk membuat video mapping ini dalam rangka peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Kota Bandung ke-60. Sembilan Matahari mempersiapkan tontonan bersejarah ini dalam waktu satu bulan sebelum acara. Secara konten eksekusi untuk video mapping ini dimulai sejak 3 minggu lalu dengan lebih dari 30 orang terlibat untuk mengerjakannya.

Video mapping yang berjudul “1955: The New Asia and Africa” ditayangkan pada pukul 19.00 WIB. Pengunjung yang datang malam itu sudah bersiap-siap menonton tayangan dokumenter inovatif yang memadukan antara teknologi dan efek visual tersebut. Gedung Merdeka pun seketika berubah menjadi cahaya warna-warni dipadukan dengan efek suara megah yang membuat suasana semakin meriah.

“Kenapa kita kasih adegan suara perang dulu di depan dengan visualnya seolah puing-puing gedung sisa perang karena yang melatarbelakangi Konferensi Asia Afrika itu adalah para pemuka negeri atau pemikir kita waktu itu berontak dan membuat statement bahwa mereka sudah cukup dengan perang,” ujar Adi Panuntun pendiri Sembilan Matahari.

Adi menerangkan video mapping yang berdurasi 25 menit ini menceritakan sejarah latar belakang diadakannya Konferensi Asia Afrika 60 tahun silam. Pada masa itu, bangsa Asia Afrika berani mengambil sikap tegas agar tidak dikendalikan oleh kepentingan blok barat dan blok timur yang menginginkan perang terus berlanjut. Keberanian itulah yang ingin video mapping ini sampaikan kepada masyarakat saat ini.

Karya dokumenter sejarah yang dipadukan dengan teknologi visual buatan Sembilan Matahari dikenal sebagai karya yang sarat akan pesan. Dalam karya “1955: The New Asia and Africa” Sembilan Matahari mengajak masyarakat untuk kembali menyalakan “Semangat Bandung” yang terangkum di dalam nilai-nilai dari Dasa Sila Bandung 1955, yaitu Menghormati Perbedaan, Kebebasan, Hak Asasi Manusia, serta Memajukan Kepentingan Bersama dan Kerjasama.

“Gedung Merdeka pernah menjadi pusat perhatian yang membuat Bandung menjadi sorotan dunia dan kita sebagai masyarakat yang tinggal di Bandung sekarang jangan melihat ini sebagai gedung tapi harus melihat ini sebagai aset sejarah. Aset yang bisa dipelajari dan dijadikan inspirasi untuk bisa berbenah diri memperbaiki situasi yang kurang saat ini,” ujarnya pria lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) ITB ini.

Menurut Adi pemilihan video mapping sebagai medium dalam bercerita diharapkan dapat menarik pengunjung untuk datang dan menonton. Dengan begitu akan lebih mudah untuk menyisipkan pesan-pesan sejarah kepada pengunjung. Selain itu, menurutnya masyarakat saat ini bukan bersikap apatis tetapi masyarakat itu tidak punya pilihan karena yang disuguhkan hanya tontonan yang bersifat negatif, bukan tontonan yang bersifat konstruktif atau membangun.

 Dalam pengerjaannya video mapping “1955: The New Asia and Africa, Sembilan Matahari berkolaborasi dengan studio visual efek dan animasi 3D yang didirikan anak-anak muda pegiat industri kreatif seperti Anamorphic, Kampung Monster, S/VFX dan Ayena Studio.

Lautan Manusia

Malam itu Jalan Asia Afrika bak seperti lautan manusia saking penuhnya. Para pengunjung yang datang dari arah Museum Konferensi Asia Afrika dan dari arah Alun-alun Bandung sudah memadati depan Gedung Merdeka. Beberapa pengunjung beruntung bisa duduk di depan Gedung Merdeka menyaksikan dengan jelas gambar dan mendengarkan suaranya dengan seksama. Namun, tidak sedikit pengunjung yang menonton dari jauh dari Gedung Merdeka, mereka hanya mendengar suaranya.

 Menurut salah satu pengunjung Gerry Fairus Irsan mengatakan, pemutaran karya terbaru dari Sembilan Matahari ini terbilang seru dan mampu merekonstruksi Gedung Merdeka menjadi saksi sejarah tetapi suasana yang ramai membuat video mapping tidak bisa dinikmati dengan nyaman.

“Tidak seperti saat pemutaran video mapping di Gedung Sate karena media proyeksi dan tempatnya lebih luas, kita bisa nonton lebih leluasa,” kata Gerry setelah menonton video mapping tersebut.

Setelah berhasil ditayangkan, ribuan warga yang memadati Jalan Asia Afrika di depan Gedung Merdeka kembali berdiri dari tempat duduknya dipandu MC pemutaran video mapping. Suasana riuh membuat beberapa anak kecil sampai digendong di bahu orang tuanya. Begitu juga para lansia yang minta dibukakan jalan untuk segera menjauhi depan Gedung Merdeka.

MC acara tersebut menyerukan agar pengunjung yang sudah menonton untuk beranjak dari depan Gedung Merdeka karena akan ada pemutaran yang kedua. Namun, padatnya pengunjung yang tidak juga bergerak membuat MC membatalkan pemutaran video mapping tersebut. Hal ini membuat para pengunjung lain kecewa tapi mereka tetap menunggu bahwa video mapping tersebut akan diputarkan kembali.

Keadaan makin sesak karena adanya mobil yang lewat di tengah padatnya para pengunjung. Setelah mobil lewat, ternyata tidak lama kemudian ada lagi mobil yang meminta warga untuk membuka jalan. Para pengunjung yang kesal sempat mengoyang-goyangkan mobil tersebut. Untungnya, kejadian itu tidak sampai mengundang keributan.

“Secara teknis Gedung Merdeka memang kurang ideal untuk menjadi tempat menonton di ruang publik walau begitu kita tetap memilih Gedung Merdeka karena nilai sejarahnya,” ujar Adi menambahkan.

Menurut penuturan Adi akan ada perbedaan rasa saat menyaksikan video mapping di Gedung Merdeka dibandingkan di tempat lain. Video mapping mampu melibatkan sebuah gedung menjadi sebuah kesatuan karya sebagai media untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s