The Royal Tenenbaums: Merayakan Perpisahan

Sumber foto: northhollyhood.com


The Royal Tenenbaums | 2001 | Durasi: 110 menit | Sutradara: Wes Anderson | Produksi: Touchstone Pictures & American Empirical Pictures | Negara: Amerika Serikat | Pemeran: Gene Hackman, Anjelica Huston, Ben Stiller, Gwyneth Paltrow, Luke Wilson, Owen Wilson, Bill Murray, Danny Glover, Seymour Cassel, Kumar Pallana

Aku mendapat tugas mengarang dengan tema keluarga
Bahagia. Aku siap melaksanakan tugas. Semoga guruku
Yang baik dan benar dapat menikmati karanganku.

“Ibu sedang mekar di ranjang,
harumnya tersebar ke seluruh kamar.
Ayah sedang berembus di beranda
dan aku masih menyala di atas meja. 

Pagi-pagi ibu sudah mengepul di dapur,
ayah berderai di halaman,
dan aku masih gemercik di tempat tidur. 

Kakek sudah menguning,
tak lama lagi akan terlepas dari ranting
dan menggelepar di pekarangan.
Nenek sudah hampir matang,
sudah bersiap meninggalkan dahan
dan terhempas di rumputan.”

Guruku tersenyum misterius membaca tulisanku.
Ia memanggilku hanya untuk mengatakan bahwa aku
Telah membuat karangan bagus tentang keluarga gaib.

Sontak saya teringat satu puisi karya Joko Pinurbo yang berjudul Keluarga Puisi, setelah menonton kembali The Royal Tenenbaums karya Wes Anderson. Puisi ini bergaya naratif yang menceritakan tentang seorang anak yang diberikan tugas oleh gurunya untuk mengarang puisi. Dengan senang hati anak tersebut mengerjakan dan mengumpulkan tugas itu kepada gurunya. Setelah membaca puisi karangan sang anak, guru itu memberikan tanggapan menarik, “Karanganmu bagus tentang keluarga gaib”. Cerita keluarga gaib juga hadir dalam cerita keluarga Tenenbaums.

Keluarga Tenenbaums sebenarnya termasuk keluarga berencana jika saja Royal dan Etheline Tenenbaums tidak mengadopsi Margot. Keluarga ini berisi Royal dan istrinya Etheline dengan dua anak kandung laki-laki yaitu Chas dan Richie dan satu anak adopsi perempuan Margot. Chas merupakan anak pertama disusul Margot dan Richie. Sekilas keluarga ini seperti keluarga lainnya, tetapi jika diperhatikan banyak hal unik dan berbeda pada setiap karakternya.

Chas sudah beranjak dewasa sejak kecil. Hal ini bisa dilihat dari penampilannya yang selalu menggunakan jas dan berkata laiknya orang dewasa. Di awal film juga diceritakan kehidupan Chas yang sudah mendapatkan uang sendiri dari bisnisnya mengelola tikus putih bertotol hitam saat masih kecil. Kelak hidupnya berubah sejak kematian mendiang istrinya, Rachel. Dari pernikahannya, ia memiliki dua orang anak laki-laki, Ari dan Uzi. Chas dan Kedua anaknya selalu memakai jaket dan celana olahraga berwarna merah setiap harinya.

Margot merupakan sosok perempuan misterius penuh rahasia. Ia sering menyendiri di kamar dan memilki kehidupannya sendiri. Sejak kecil, ia juga tahu dirinya bukan anak kandung dari keluarga Tenenbaums karena di setiap kesempatan, sang ayah Royal Tenenbaums mengatakannya. Ia berambut kuning pendek dan selalu menggunakan kaos bergaris. Anak nomor dua ini juga suka membaca buku dan menulis skenario drama. Saat dewasa, ia menikah dengan Raleigh St. Clair yang berprofesi sebagai seorang neurolog. Namun pernikahannya tidak berjalan lancar.

Si bungsu Richie sangat akrab dengan Margot. Mereka berdua sering bermain dan bertualang bersama sejak kecil. Misalnya ketika mereka lari dari rumah dan menginap di museum. Richie gemar bermain tennis hingga ia menjadi atlet tennis ketika dewasa. Penampilan Richie begitu eksentrik dengan jersey olahraga, jas, kacamata hitam, dan headband yang selalu menghiasi kepalanya. Ia juga memelihara seekor burung elang bernama Mordecai di atap rumah keluarga Tenenbaums.

Tidak hanya ketiga anaknya saja yang unik, ayah dari ketiga anak ini juga termasuk. Royal Tenenbaums selalu berpenampilan rapi dengan jas dan kacamata setiap kali bepergian. Di setiap waktu, ia akan menyalakan rokok dan kemudian mengisapnya. Kelakuannya pun sama anehnya dengan ketiga anaknya, Royal tidak mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya secara tersurat. Namun ia lebih suka menghabiskan waktu bersama anak-anaknya dengan kegiatan yang sifatnya suka-suka hanya untuk kesenangan semata. Kesempatan menghabiskan waktu dengan anak-anaknyalah awal dari cerita keluarga ini dimulai.

Seperti judulnya, cerita film ini mengetengahkan sosok Royal Tenenbaums sebagai ayah yang pernah menyakiti keluarganya dan belum sempat menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Permasalahan dimulai ketika Royal dan Etheline memutuskan untuk berpisah saat ketiga anak mereka masih kecil. Sejak itu Royal hanya bertemu dengan keluarganya sesekali saja. Itu pun jika ia diundang pada suatu acara. Karena itu ia kembali dengan berbagai cara dan trik tertentu untuk menebus segala kesalahannya di masa lalu.

Keluarga Tenenbaums bukanlah keluarga sempurna yang sepanjang tahun diliputi kebahagiaan yang hakiki. Keluarga ini malah berbanding terbalik, jauh dari kata sempurna jika dilihat dari berbagai masalah yang terjadi. Mulai dari sosok ayah yang memutuskan untuk berpisah dengan keluarganya tanpa alasan yang jelas dan masalah pribadi masing-masing anggota keluarga yang juga rumit. Namun masalah yang terjadi sebenarnya masalah biasa dalam keluarga sehari-hari.

Misalnya soal perceraian antara pasangan suami-istri. Persoalan ini juga tampak dalam beberapa film dari Amerika Serikat seperti The Squid and The Whale (2005), What Maise Knew (2012), dan Boyhood (2014). Perceraian berarti perpisahan dari sebuah hubungan sakral bernama pernikahan. Dari perpisahan ini yang terkena dampaknya adalah anak-anak. Mereka terpaksa merasakan pahitnya perpisahan yang mengakibatkan kurangnya kasih sayang dari kedua orang tua.

Begitu pula dengan masalah yang terjadi pada tiap tokohnya. Chas yang dirundung kesedihan teramat dalam karena ditinggalkan istrinya akibat kecelakaan, Margot yang bermasalah dalam hubungan asmara, dan Richie yang dihadapkan pada masalah cinta karena kesetiaan. Namun film ini tidak menjelaskan dengan gamblang masalah yang terjadi antara Royal dan Etheline Tenenbaums hingga memutuskan untuk berpisah. Perpisahan pasangan suami-istri ini sebenarnya akar dari berbagai permasalahan yang terjadi dalam film ini.

Wes Anderson dan Owen Wilson menuliskan drama keluarga ini dengan sentuhan yang tidak serta merta sentimental. Cerita keluarga Tenenbaums memang gaib seperti dongeng kisah keluarga yang aneh bin ajaib. Cara bertutur Wes Anderson dalam penyutradaraannya pun seperti dongeng dengan membagi film ke dalam beberapa babak. Cerita dalam film juga dipandu suara narator sebagai pihak ketiga. Keunikan tiap karakternya pun semakin mengukuhkan film ini seperti dongeng, yang dalam kehidupannya nyata tidak mungkin ada.

Selain cerita yang unik, Wes Anderson juga seorang sutradara yang apik dalam mengambil gambar. Setiap shot memiliki nilai estetika yang menarik dengan pengambilan gambar yang simetris. Pergerakan kameranya pun terbilang beda dari yang lain. Kamera rata-rata bergerak ke kanan-kiri atau atas-bawah. Pergerakannya seperti pergerakan mata manusia yang kaku saat memandang. Wes Anderson tidak hanya piawai dalam menghasilkan gambar yang apik tetapi juga mampu memberikan makna cerita pada setiap gambarnya.

Film bertema drama keluarga tidak harus selalu mendayu-dayu tapi bisa seliar cerita keluarga Tenenbaums ini. Hal itu dibuktikan Wes Anderson yang berhasil menceritakan sebuah perpisahan dengan hura-hura tanpa tendensi untuk membuat penonton cengeng. Dengan begitu penonton tetap bisa merasakan kehangatan keluarga dan merayakan perpisahan dengan hati riang.

Tulisan ini juga dimuat di website CC Fikom Unpad.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s