Cek Toko Sebelah: Nikmat yang Paling Indah Adalah Tertawa

Cek Toko Sebelah | 2016 | Durasi: 104 menit | Sutradara: Ernest Prakasa | Produksi: Star Vision | Negara: Indonesia | Pemeran: Ernest Prakasa, Chew Kin Wah, Dion Wiyoko, Adinia Wirasti, Gisella Anastasia, Tora Sudiro, Dodit Mulyanto, Adjis Doaibu, Awwe, Arafah Rianti

Di tengah gerahnya situasi politik, angin segar lewat membawa tawa dalam film bergenre komedi. Kali ini Ernest Prakasa kembali dengan bahan candaan baru lewat cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia memberi judul film terbarunya, Cek Toko Sebelah. Judul itu sekilas mengingatkan kita pada momen tawar-menawar sengit antara penjual dan pembeli di toko kelontong. Penjual akan mengakhiri debatnya dengan kalimat, “Harganya emang segitu gak bisa ditawar lagi, cek saja toko sebelah kalau gak percaya”.

Ernest melangkah maju dari persoalan identitas seperti pada film pertamanya, Ngenest. Di akhir tahun 2016, ia meluncurkan film keduanya yang fokus menceritakan soal warisan orang tua kepada anaknya. Soal warisan memang kerap menjadi momok permasalahan dalam sebuah keluarga. Begitu juga film ini, Koh Afuk (Chew Kin Wah) merupakan pemilik toko kelontong yang ingin mewariskan tokonya kepada Erwin (Ernest Prakasa) –anak kedua Koh Afuk. Namun keputusan tersebut disesali kakak Erwin, Yohan (Dion Wiyoko) yang merasa lebih pantas menerima warisan tersebut. Padahal sebenarnya Erwin pun tidak berminat mengurus toko karena sedang meniti karirnya ke jenjang yang lebih tinggi.

Cerita ini bermula dari kegelisahan Ernest sendiri yang kemudian didiskusikan bersama istrinya, Meira Anastasia. Lalu dikembangkan menjadi cerita yang utuh bersama Jenny Jusuf –penulis skenario Filosofi Kopi. Sebagai komika dan juga sineas, Ernest mengembangkan kegelisahannya menjadi ide yang segar di ranah perfilman indonesia khususnya dalam genre komedi. Idenya terinspirasi dari kejadian biasa yaitu soal warisan dan hubungan keluarga. Namun ia tepat memilih momen warisan toko yang sebenarnya sudah terjadi sejak dulu tetapi belum ada yang mengangkat tentang ini. Biasanya warisan toko atau bisnis keluarga masih terjadi di indonesia khususnya keluarga keturunan Tionghoa.

Film komedi keluarga ini memfokuskan pada tiga tokoh utama, Koh Afuk, Erwin, dan Yohan. Ketiganya hampir memiliki porsi sebanding dalam film ini. ketiganya juga memiliki persoalan pribadi masing-masing yang melatarbelakangi konflik ini terjadi. Misalnya Koh Afuk yang lebih percaya Erwin ketimbang Yohan karena mampu mengurus hidupnya dengan baik. Berbeda dengan Yohan yang hidupnya jatuh-bangun dan urusan pekerjaan yang tidak menentu. Berbeda pendapat dengan sang ayah, Yohan merasa Erwin lebih mementingkan karir dibanding keluarga. Di sisi lain, Erwin tidak ingin meneruskan toko kelontong milik keluarganya. Ia memiliki ambisinya sendiri untuk bekerja di luar negeri.

Ernest yang menjadi sutradara, penulis skenario, sekaligus pemain dalam film ini lebih banyak memberikan porsi komedi di luar tokoh utamanya. Dalam cerita, tokoh para pekerja toko Koh Afuk selalu melawak di kala kerja. Ada duo sahabat yang saling bertikai dan bersenda gurau, ada pujangga yang berusaha merayu perempuan dengan puisi, ada juga pria bertubuh besar yang feminin. Begitu juga dengan teman sepermainan Yohan saat berjudi kartu dan bos Erwin yang bawel di kantor. Para peran pendukung ini berhasil memecah suasana dengan gurauan sehari-hari yang mengocok perut.

Sosok perempuan dalam film ini juga menarik dibahas. Seperti kata pepatah “Di balik pria sukses ada perempuan hebat di belakangnya”. Pasalnya Koh Afuk, Yohan, dan Erwin memilki pasangan hidup yang juga perempuan hebat. Misalnya istri Yohan, Ayu (Adinia Wirasti) yang memiliki kriteria perempuan ideal seperti sabar, patuh terhadap suami, dan pendengar yang baik. Lalu ada pacar Erwin, Natali (Gisella Anastasia) sebagai pemberi dorongan walau memilki gengsi yang tinggi. Dan terakhir ada tokoh istri Koh Afuk walau sudah meninggal, sang istri tetap hidup dalam ingatan Yohan dan Erwin sebagai perempuan tangguh di balik suksesnya toko keluarga mereka.

Namun ada juga tokoh pendukung yang secara karakter tidak kuat. Misalnya tokoh asisten pengusaha kaya raya yang diperankan Yeyen Lidya terasa dipaksakan motifnya saat membantu Yohan dan Erwin. Lalu tokoh supir taksi yang diperankan Kaesang Pangarep. Kemunculan anak presiden Indonesia ini masih terlihat canggung dan secara akting belum maksimal. Begitu juga dengan anak kecil yang dimainkan Sky Tierra Solana –anak pertama Ernest– belum menunjukan kelihaiannya dalam bermain peran.

Secara keseluruhan, Ernest Prakasa mampu menghibur penonton hingga tertawa terbahak-bahak sekaligus membawa perasaan haru. Hal ini jelas karena naskah skenario yang dikembangkan dengan baik. Juga tokoh-tokoh pendukung yang berhasil membuat lucu di setiap adegannya. Ernest sebagai sutradara dan penulis pun pandai memadukan ritme humor dan alur cerita. Dengan kejujurannya dalam berkarya, sekali lagi Ernest berhasil membuat penonton ketagihan menyaksikan filmnya.

Tulisan ini juga dimuat di website Dipanpers

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s