Christopher Nolan dalam Memproduksi Film Orisinal

Oleh: Scott Feinberg via Hollywood Reporter


Sineas kelahiran Inggris ini adalah orang di balik film-film yang paling banyak dikritik dan paling komersial abad 21, tapi nominasi sutradara terbaik Oscar belum pernah menghampirinya.

Christopher Nolan adalah orang di balik film-film yang paling banyak dikritik dan paling komersial abad 21: Memento, Insomnia, Batman Begins, The Prestige, The Dark Knight, Inception, The Dark Knight Rises, dan tahun 2014 sebuah film epik antarplanet/interdimensional sci-fi, Interstellar yang ditulis bersama adiknya Jonathan Nolan. Ia juga ambil andil dalam menyutradarai filmnya bersama produser yang juga istrinya, Emma Thomas.

Interstellar, film yang banyak dibahas dan dikritisi membutuhkan biaya 165 juta dollar AS untuk memproduksinya dan sejauh ini meraup keuntungan lebih dari 650 juta dollar AS dari pemutaran filmnya di seluruh dunia, membuat Interstellar jadi satu-satunya film dalam daftar 10 film paling menguntungkan tahun 2014 yang tidak termasuk film remake, sekuel, reboot atau adaptasi, melainkan karya yang seluruhnya orisinal, sesuatu yang sangat jarang digarap oleh rumah produksi ternama. Di sisi lain, meskipun beberapa orang memperdebatkan plot dan sound mixing, banyak orang termasuk sineas ternama salut pada ambisi Nolan dan kemampuannya dalam memproduksi Interstellar.

Sineas 44 tahun kelahiran London ini dinominasikan Oscar dalam kategori Naskah Orisinal Terbaik untuk filmnya Memento (bersama adiknya) dan Inception. Akan tetapi, betapa mengejutkan bahwa ia belum pernah dinominasikan sebagai sutradara terbaik. Hollywood Reporter mendapat kesempatan wawancara mendalam dengan Christopher Nolan di rumah produksinya yang dipenuhi dengan poster dan memorabilia film-film Nolan sendiri. Dalam wawancara ini ia membahas tentang inspirasi, pendapatnya bekerja dengan aktor, tanggapannya mengenai kritik, juga aspirasi Nolan ke depan.


Apakah Anda menonton film sejak kecil, apabila iya, adakah film atau sineas favorit Anda?

Saya banyak menonton film sejak kecil. Film pertama adalah Star Wars (1977) yang disutradarai George Lucas saat saya berusia tujuh tahun. Bagi saya, film itu memberikan kesan yang mendalam, bagaimana ruang lingkup dan ide filmnya menciptakan pengalaman yang jauh dari bayangan penonton, sebuah dunia baru, bahkan lebih dari satu, keseluruhan tata surya yang berbeda. Film Stanley Kubrick, 2001: Space Odyssey juga dirilis ulang saat saya berumur tujuh tahun, jadi saya punya kesempatan menonton di bioskop. Itu adalah pengalaman yang menarik. Saya tidak ingat apakah filmnya sulit dipahami atau membingungkan hahaha; saya hanya ingat bagaimana saya begitu tertarik melihat luar angkasa, melihat dunia lain dan seperti ditarik ke dalam dimensi lain. Pengalaman itu sangat berarti bagi saya.

Kapan pertama kali Anda ingin membuat film? Dan kapan tepatnya Anda menyadari membuat film adalah hal yang ingin Anda lakukan?

Sepertinya sewaktu kecil itu. Saya sudah mulai mengotak-atik kamera Super 8 milik ayah saya untuk membuat film perang-perangan dan hal lain. Dan setelah menonton Star Wars, semua film saya bertemakan luar angkasa. Saya kira kisaran umur 12 sampai 13 tahun saya tahu saya ingin menjadi orang yang mengarahkan atau menjadi sutradara seperti saat saya mengotak-atik kamera Super 8 dengan menggabungkan beberapa foto. Saya ingat dulu saya benar-benar terpana pada film Ridley Scott, Blade Runner dan saya juga menyukai filmnya yang lain, Alien. Pada saat itulah saya sadar Blade Runner dan Alien adalah dua film yang berbeda, aktor yang berbeda, cerita yang berbeda, tetapi dibalik arahan orang yang sama. Itulah hal yang membuat saya paham terhadap konsep sutradara bagaimana sutradara mampu mengarahkan film sesuai dengan gagasannya, menyatukan bagian-bagian yang penting, sesuatu yang hanya sutradara mampu rasakan. Itu adalah hal yang luar biasa. Setelah itu, saya mulai menulis naskah film saya sendiri karena tidak ada orang yang akan memberikan kamu naskah film ketika kamu baru mulai merintis karier sebagai sutradara. Jadi, saya mulai menulis untuk diri saya sendiri, juga memungkinkan menjadi sutradara dari naskah itu dan pada akhirnya saya jadi suka menulis naskah.

Bagaimana pendapat orang tua Anda ketika Anda memutuskan menjadi sutradara? Beberapa sutradara baru merasa kesulitan karena orang tua meragukan pekerjaan tersebut

Tidak, orang tua saya sangat mendukung saya. Ayah bekerja di perusahaan iklan, ia adalah seorang creative director dan ibu saya adalah seorang guru Bahasa Inggris. Mereka senang ketika saya ingin melakukan hal yang kreatif dan meminjamkan saya kamera –yang pada akhirnya kamera itu rusak juga hahaha. Saya ikat kamera itu di bagian bawah mobil dan akhirnya hancur berkeping-keping. Waktu itu ayah agak kesal kameranya rusak. Kalau saya ingat lagi betapa belia saya waktu itu, saya begitu girang ketika ayah dan ibu meminjamkan kamera mahal Super 8! Mereka adalah orang tua yang sangat mendukung dan pada Hari Natal mereka memberikan saya mesin edit, Editola. Mesin reel-to-reel yang memudahkan saya menyatukan adegan-adegan film. Mereka benar-benar mendukung saya.

Saat Anda mulai kuliah apakah Anda mengambil jurusan yang berkaitan dengan film?

Tidak, saya mengambil jurusan Bahasa Inggris di UCL (University College London), tetapi ada komunitas film disana dan istri saya –produser. Saya ikut dalam komunitas film kampus selama beberapa tahun. Suatu lingkungan yang seru karena mereka memiliki alat-alat 16 mm. Mereka juga punya peralatan untuk video seperti yang dimiliki komunitas TV tapi bedanya kami komunitas film. Di basement Bloomsbury Theatre di London, biasanya kami akan menayangkan film menggunakan rol film 35 mm kepada orang-orang dan bayarannya untuk menjalankan komunitas film, untuk bayar produksi rol film 16 mm. Jadi, saya tidak mengikuti kursus atau semacamnya karena saya belajar dari kegiatan kampus, yang kita dapat pelajari sendiri, itulah letak keseruannya. Tidak ada peraturan yang benar-benar mengikat, bebas menggunakan alatnya bersama orang-orang yg juga suka membuat film, menyenangkan bukan?

Chris dan Emma.jpg
Emma Thomas adalah istri sekaligus produser film-film Christopher Nolan (sumber: zimbio.com)

Seperti yang diketahui, istri Anda berperan penting dalam film-film yang Anda produksi sejak bertemu dengannya. Bagaimana kisah pertemuan pertama Anda dengan istri? Apakah pada akhirnya kalian bersama karena film?

Kami bertemu saat hari pertama kuliah. Kami tinggal di gedung asrama yang sama dan bertemu begitu saja. Dan karena saya ingin mendalami film dan sedang membuat film, saya membujuknya untuk terlibat dalam komunitas film, istri saya mengiyakan keinginan saya dan terjun begitu saja ke dunia film. Lalu, ia akhirnya bekerja di dunia perfilman. Setelah lulus kuliah, ia bekerja di Working Title Films. Begitulah bagaimana kami bertemu, sudah lama sekali.

Kata “Produser” bisa berarti banyak. Apa peranan produser (istri) dalam film-film Anda?

Betul, ia melakukan banyak hal bersama saya. Seperti yang kita ketahui, menjadi seorang produser itu tidak mudah. Ia terlibat dalam banyak hal, ia adalah wanita yang sangat saya percaya dalam proses kreatif, ia adalah orang pertama yang saya tunjukkan ide-ide saya dan ia benar-benar terlibat di semua aspek produksi film. Ini bukan hubungan dimana ketika ia bersama saya maka akan mempermudah segalanya.

Kami bekerja bersama dalam segala hal, jadi bukan hanya ia yang memberi saya saran untuk melakukan suatu hal lalu semuanya tercapai secara mudah. Ini karena kami bersama sejak masa rol film 16 mm –sejak kami mencoba mixing suara bersama menggunakan roll 16 mm itu– ia mengetahui bagaimana proses pembuatan film lebih dari siapapun. Bukan berarti ia membesar-besarkan keahliannya –orang lain juga tidak akan benar-benar peduli –tapi ia tahu banyak tentang bagaimana fim dibuat, itu tentu sangat berarti bagi saya karena saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang film, ia sudah mengerti sebelum saya jelaskan. Ia mengerti akan seperti apa pembuatan film secara tepat. Terutama untuk film besar —ada banyak mekanisme yang kompleks, dan orang-orang biasanya punya satu hal yang mahir mereka lakukan. Seorang produser harus tahu segala hal tentang menjadi produser.

Hal yang unik dari memulai dari membuat film indie adalah kamu harus tahu berbagai hal tentang apa saja –itu sebuah keharusan— sebagai seorang produser, istri saya melakukan itu semua, ia adalah orang yang hebat kalau dilihat dari sudut pandang tersebut. Dan dari sudut pandang kreativitas, bekerja dengannya hampir sama seperti saya bekerja sama dengan adik saya, sebenarnya kamu akan bekerja dengan keluarga atau orang-orang yang kamu anggap sebagai keluarga dan tidak ada sekat yang mencegah mereka mengatakan segala hal yang mereka pikirkan. Ketika kalian sedang membahas proses kreativitas, argumen atau konflik, kamu pasti tahu mereka benar-benar tulus –itu sesuatu yang mereka percaya— bahwa kamu bisa mengungkapkan segala hal dan melibatkan mereka dalam setiap proses.

Sebagai seorang sutradara, bekerja di dunia film yang komersial, kamu harus tahu pertarunganmu; kamu harus tahu kapan saatnya menerima saran, tetapi kamu juga harus mempunyai kepempimpinan yang kuat. Ini adalah hal yang rumit. Pada akhirnya kamu akan menghadapi banyak orang yang entah memang pekerjaannya mengkritikmu dan mereka menginginkanmu untuk menyenangkan semua orang, atau mereka sedang ingin membuktikan sesuatu, akan banyak orang seperti itu. Kamu juga akan bertemu orang-orang yang tulus, orang yang cerdas dan orang-orang ini yang akan memberikan saran terbaiknya untukmu. Kadang kala membingungkan saat membedakan kapan waktu untuk mendengar dan kapan waktunya mengatakan “Saya tahu apa yang saya lakukan.” Hal hebat yang saya dapat dari bekerja dengan Emma dan bekerja dengan Jonah adalah mereka akan selalu memberikan saya saran dan kritik tanpa ada sekat sama sekali.

Following.jpg
Film panjang perdana Nolan (Sumber: manilovefilms.com)

Anda mengatakan Anda mulai dari perfilman indie. Bagaimana pengalaman mengenai film indie pertama Anda, Following? Apakah film tersebut yang membawa Anda ke Hollywood?

Following adalah film yang saya produksi bersama teman-teman menggunakan rol hitam putih 16 mm. Kami syuting setiap hari sabtu. Saya juga bekerja di tempat lain agar saya dapat membayar 10 menit footage setiap kami syuting hari sabtu, bahkan untuk setahun. Kami hanya butuh satu sampai dua kali take untuk setiap adegan dan pada akhirnya kami mendapatkan durasi 70 menit. Kami membutuhkan waktu hingga setahun untuk menyelesaikannya, dan ketika saya sedang menyelesaikan penyuntingan filmnya, Emma diterima bekerja di kantor Working Title Films sekaligus pindah ke daerah dekat kantornya, Los Angeles. Dan karena saya juga sudah menjadi warga negara Amerika, bukan ide yang buruk untuk memproduksi film pertama kami di Los Angeles, lagipula banyak festival film di Amerika Utara jadi saya memutuskan untuk pindah ke Los Angeles.

Saya mulai dari menjadi penulis naskah film, Emma bekerja di Working Title, dan kami mulai mengirim tapes ke berbagai festival film. Akhirnya, film kami diterima oleh San Francisco Film Festival, dari situlah awal mula karier kami. Dari San Francisco Film Festival lalu ke Toronto sampai Slamdance, kami mendapatkan bantuan pendistribusian film dari perusahaan Zeitgeist. Pada waktu yang bersamaan, saya sudah mulai menulis naskah Memento. Waktunya itu sangat tepat, karena ketika kamu mulai mendapatkan perhatian, sedikit keberhasilan pada festival film maka orang-orang akan mulai melirikmu dan bertanya “Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?” dan hal yang akan menggagalkan momen itu adalah saat kamu tidak punya rencana yang jelas. Saat itu saya punya naskah jadi saya katakan “Ini yang akan saya lakukan.”

Pada momen itu, saat Anda mulai menarik perhatian orang sekitar, apa rencana Anda waktu itu? Apa cita-cita terbesar Anda?

Agak sulit untuk mengingatnya. Mungkin secara tidak sadar, di pikiran saya selalu ada keinginan untuk membuat film-film besar seperti yang saya pernah tonton waktu kecil tapi tentu itu bukan keinginan yang disengaja. Saat saya pergi ke beberapa festival film lewat Following, seringkali orang mengatakan Following adalah “Film tipikal, mudah ditebak (calling card)” dan itu membuat saya kesal. Respon saya waktu itu adalah “Kalau kamu ingin membuat kartu nama (calling card), kamu bisa datang ke Kinko’s. Tidak perlu menghabiskan tiga tahun untuk mempelajari film.”

Arti sebuah film bagi saya itu bagaimana memproduksi filmnya sendiri, prinsip itu masih saya pegang dan laksanakan sampai sekarang. Dan saya mencoba untuk meyakinkan pemula yang baru menjajaki karier sebagai sutradara untuk menghargai setiap kejadian, memetik hikmahnya bahkan dari hal-hal yang sepele saat memproduksi film. Kalau kamu ingin menjadi sineas, ya buatlah film dan nikmati prosesnya. Jangan terlalu memikirkan apa yang harus kamu lakukan selanjutnya, nikmati saja prosesnya. Saya selalu yakin pada hal itu –dan semenjak saya memproduksi film yang bisa dibilang besar– saya bisa mengatakan keyakinan seperti itu tidak salah, ya kecuali dalam hal pembayarannya hahaha.

Orang terkadang lupa Memento dirilis saat kamu baru berusia 30 tahun…

Betul, perlahan-lahan hingga dua tahun kemudian orang baru menyadarinya. Memang betul Memento rilis saat saya berusia 30 tahun.

Saya paham sekarang memproduksi film itu harus dengan kesungguhan. Akan tetapi, apakah ada perbedaan saat memproduksi film dengan budget yang besar untuk yang pertama kali?

Sangat berbeda. Orang-orang sering menanyakan bagaimana ketika saya memproduksi Batman tapi sesungguhnya lompatan terbesar dalam karier saya adalah ketika beralih dari memproduksi Following ke Memento. Dari yang awalnya memproduksi bersama kawan sendiri, menggunakan uang sendiri dan tiba-tiba mengambil risiko besar, menghabiskan dana orang lain sampai berjuta-juta dollar AS dan benar-benar memiliki kru sendiri dilengkapi truk dan banyak lagi hal yang terjadi. Dan meskipun itu sebetulnya film yang tidak terlalu dilirik standar Hollywood –film itu memakan dana tiga setengah juta dollar AS ditambah dengan biaya ini itu, tiga setengah juta dollar AS atau mungkin empat juta dollar AS bagi saya itu jumlah yang besar dan bebannya berat sekali. Syutingnya berlangsung terbilang cepat, hanya dalam waktu hampir 26 hari dan karena itu juga mudah untuk dikelola, tetapi tekanannya juga besar.

Filmnya harus selesai dalam lima minggu, saya dihadapkan dengan penyuntingan yang juga penuh tekanan dan kami juga harus edit filmnya dalam lima minggu tersebut –waktu itu kami bukan bagian dari DGA (Serikat Sutradara Amerika) dan tekanannya semakin terasa berat. Namun saya bersama Emma dan John bekerja sebagai asisten produksi, saya senang ia ada di lokasi syuting. Dan eksekutif produser kami Aaron Ryder, yang juga rekan kerja Emma di Working Title; ia orang yang hebat dan orang yang dapat mengatasi tekanan dari berbagai sisi dan membantu saya melalui pengalaman itu.

chris-dan-jo
Christopher Nolan dan adiknya, Jonathan Nolan (sumber: slashfilm)

Apakah Anda dan Jonathan memang sangat akrab? Sepertinya sulit untuk Anda dan Jonathan lebih akrab saat ini…

Kami sebenarnya sangat dekat. Akan tetapi, ia enam tahun lebih muda dari saya, kami melalui fase pertumbuhan juga. Sewaktu-waktu ia dan saya seperti tidak akrab, lain waktu kami akrab sekali. Saya menariknya ke dunia film karena yakin akan kemampuan Jonathan dalam menulis lalu saya giring ia ke dunia Hollywood dan sesuai ekspektasi ia melakukan pekerjaan yang luar biasa, itu membuat saya ikut bahagia. Menurut saya itu menyenangkan ketika dapat bekerja bersamanya.

Kami selalu berbeda pendapat –maksud saya semua adik kakak pasti seperti itu, dan itulah titik serunya— tetapi jika sedang berargumen tentang hal yang berguna dengan orang-orang terdekat maka argumen-argumen itu lahir dari sebuah pemikiran yang tulus dan itu memudahkanmu dalam mengatasi perbedaan tersebut karena ketika kamu renungkan kembali saat kamu bekerja sama dengan orang-orang kreatif yang punya pendapat sendiri-sendiri itu akan menantangmu untuk mempertahankan apa yang kamu mau atau mendengar pendapat mereka dan mempertimbangkan apakah yang mereka katakan benar lalu kamu akan mengubah semuanya dan membuat film yang lebih baik lagi.

Kesimpulannya, bekerja sama dengan Jonathan itu sangat sangat produktif. Namun, ia orang sibuk –bahkan saya sulit untuk menghubunginya! Hahaha.

Setelah Memento, sebelum Anda memproduksi dengan budget yang sangat besar, Anda sempat memproduksi Insomnia. Apakah menurut Anda film itu seperti sebuah uji coba?

Menurutku itu sebuah langkah yang tepat untuk menuju sebuah rumah produksi yang besar –mungkin belum bisa dikatakan rumah produksi besar tetapi rumah produksi sedang, tapi menurut saya memproduksi Insomnia adalah hal besar, bekerja sama dengan aktor ternama, dan dengan budget yang sangat besar, yaitu sepuluh kali lipat daripada Memento. Jadi itu adalah langkah untuk meningkatkan kualitas film atau perantara untuk ke film-film yang lebih besar. Menurut saya itu adalah sebuah langkah untuk meningkatkan kualitas film dan itu adalah pengalaman berarti untuk saya dan sangat sedikit sutradara yang ditawari kesempatan seperti itu.

Saat orang-orang melihat dan mengetahui saya memproduksi Batman maka kebanyakan orang akan berkata “Orang ini kan beruntung saja, dari film indie langsung mendapat kesempatan untuk memproduksi Batman.” Padahal kenyatannya, saya tidak seperti itu. Saya juga pernah memproduksi di rumah produksi yang tidak besar, merasakan banyak tekanan, tetapi kamu tidak merasakan banyak tekanan ketika kamu ikut andil dalam memproduksi karakter yang memang kamu sukai. Jadi, saya dapat mengatur pemilihan waktu dan juga membina hubugan yang baik dengan rumah produksinya (Warner Bros).

Melalui pengalaman itu, saya mempelajari bagaimana berurusan dengan tekanan memproduksi film besar. Itu merupakan pengalaman yang menarik dan suatu keberuntungan, karena kebetulan waktunya sangat tepat —karena sewaktu Memento selesai diproduksi kami tidak bisa menjualnya dimanapun— kami mencoba menawarkannya ke berbagai distributor di kota, tetapi tidak ada yang menerimanya, kecuali Paramount Classics, mereka tertarik tapi tidak menawarkan harga yang tinggi. Kesimpulannya, kami benar-benar kesulitan saat itu.

Saya berkesempatan bertemu dengan banyak studio dan staf karena setiap kali kami menayangkan film, pasti ada seseorang yang sepertinya melihat sesuatu yang unik dalam cara saya memproduksi film sehingga itu mampu memotivasi saya untuk semangat untuk lebih baik lagi. Pada waktu itu juga, saya juga sudah tanda tangani kontrak dengan Warners untuk film Insomnia tepat saat kesulitan mendistribusikan Memento. Jadi momen tersebut tepat sekali. Saya memperoleh banyak keberuntungan, tapi momen itu adalah yang paling berkesan karena pada saat itu tidak semua orang berkata “Oh, kamu melakukan hal yang berbeda dan ekstrim, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Bagaimana caramu melakukannya?” Saya tidak berada dalam posisi semua orang berkata seperti itu, tidak sama sekali karena pada saat itu saya sudah pernah memproduksi film yang bisa kamu bilang genre-nya thriller dan saya benar-benar melakukannya dengan sepenuh hati,itu merupakan pengalaman yang menyenangkan.

Bayangkan, bekerja sama dengan Al Pacino, Robin Williams, dan Hillary Swank? Mereka orang-orang yang sangat berbakat. Itu adalah salah satu pengalaman favorit saya dan saya bangga dengan film tersebut —tetapi itu bukan film yang menggambarkan saya. Hillary Seitz menulis filmnya dan film itu adalah film remake. Film itu sangat sesuai dengan keinginan studio pada saat itu— Maksud saya, genre film seperti itu sekarang ini tidak begitu banyak diminati; menurut saya, Insomnia termasuk dalam film terakhir bertemakan kepolisian yang menggunakan sistem studio dalam proses pembuatannya, meskipun begitu kami menikmati prosesnya –dan saya bertemu dengan banyak orang hebat. Semua itu adalah momen hebat dan saya menghargainya. Secara pribadi, terlibat dalam film Insomnia adalah hal yang sangat penting bagi saya.

poster-film-nolan
Film-film Nolan (sumber: motherjones.com)

Apakah Batman adalah film yang selalu Anda incar? Apakah ada hal tertentu yang ingin Anda bangun dalam film itu?

Sebetulnya proses mendapatkan kesempatan menjadi sutradara Batman datang dengan cara yang unik, melalui agen saya, Dan Aloni menghubungi saya dan berkata “Mungkin kamu tidak akan tertarik, tetapi Warners sedang mencari orang untuk menangani Batman” Kamu bisa bilang waktu itu Batman sudah di ujung tanduk, dan pada saat itu tidak ada istilah reboot jadi benar-benar sebuah pertanyaan “Apa yang akan kamu lakukan dengan Batman?” dan saya menjawabnya dengan “Sebetulnya saya tertarik dengan Batman”, karena itu adalah salah satu film besar yang sangat mempengaruhi saya, oh iya kita belum membicarakan film Superman-nya Dick Donner rilis pada tahun 1978.

Film itu memberikan kesan yang mendalam bagi saya. Saya ingat bagaimana trailernya, bagaimana filmnya dan semuanya. Saya mengingatnya dengan sangat jelas –sebuah film yang brilian. Batman yang disutradarai oleh Tim Burton rilis pada tahun 1989 sukses di seluruh dunia, film itu bukan film yang menyajikan dunia nyata maksudya seperti dunia yang kita tempati tetapi film itu menggambarkan Tim Burton, sangat istimewa, seperti mahakarya beraliran gotik. Akan tetapi sejak itu seperti ada kekosongan karena yang seperti kita tahu ada film Superman tahun 1978 tetapi tidak ada Batman tahun 1978, film yang setting-nya dunia nyata dimana kita bisa merasakan di dunia yang kita tempati setiap harinya ada sosok luar biasa seperti film Superman yang Dick Donner gambarkan tahun 1978.

Pada akhirnya, karena itulah saya datang ke studio dan mengatakan “Oke, inilah yang akan saya buat”. Saya bahkan tidak tahu siapa yang memulai istilah film reboot atau semacamnya, tetapi istilah itu ada setelah Batman Begins rilis, pada waktu itu kami tidak tahu menahu bagaimana membuat remake untuk franchise suatu film, waktu itu yang kami tahu ini adalah “Tidak ada orang yang membuat filmnya dengan cara seperti ini dan membuatnya menjadi film laga, sebuah film laga kontemporer blockbuster”

“Film berdasarkan realita” maksudnya…

Didasarkan pada realita –didasarkan pada realita yang sebenar-benarnya, film berdasarkan realita yang kami harapkan waktu itu seperti layaknya film laga Jerry Bruckheimer, film laga yang memiliki dunia yang nyata. Jadi pada akhirnya kami seperti “OK mari lakukan ini”. Yang paling saya suka dari film Superman adalah bagaimana New York terlihat seperti New York pada kenyataannya bukan sebaliknya Metropolis terlihat seperti New York. Metropolis terlihat seperti sebuah kota yang mampu kita kenali –dan tiba-tiba ada seorang pria yang dapat terbang di sepanjang jalan.

“Ini adalah ide yang keren, mari kita adaptasi ide itu pada film Batman dan ayo kita mulai dengan casting pemain yang bagus”, yang mana film Superman sudah pernah lakukan tetapi saya belum pernah lihat hal seperti itu lagi sejak saat itu –mereka punya Marlon Brando hingga Glenn Ford (yang berperan sebagai ayahnya Superman), itu benar-benar casting yang luar biasa jadi kami mulai dengan Christian Bale yang tepat memerankan Batman lalu disusul oleh Michael Caine, Gary Oldman dan Morgan Freeman hingga Tom Wilkinson. Benar-benar casting yang luar biasa!

Pada saat itu apakah Anda menyadari “Saya akan terlibat dalam kelanjutan filmnya”

Tidak, tidak sama sekali. Saya hanya sepakat satu film. Saat pertama kali saya bicara dengan penulis skenario, David Goyer, kami berkata “Kalau film ini sukses…” pada saat itu semua orang juga terpikirkan tentang trilogi tapi mungkin sudah tidak lagi karena pada akhirnya mereka memisahkan film ketiga menjadi film yang kedua. Namun pada saat yang bersamaan, The Matrix membuat sekuel filmnya, semuanya seperti tentang trilogi, “Apa itu sebenarnya trilogi?!” Dan kami tidak mau menjawab pertanyaan itu.

Kami pribadi, memulai ide-ide yang masih samar untuk sekuel Batman dan saya langsung menolak semua itu dan mengatakan “Kalian tahu? Kita harus melakukan segalanya untuk satu film dan cobalah membuat film yang hebat karena mungkin saja kalian tidak mendapat kesempatan ini lagi” dan setelah filmnya sukses, kami mulai memikirkan “OK, apa yang akan kita lakukan pada sekuelnya?” Kami bisa mengadaptasi dan berkembang sesuai dengan bagaimana publik menerima filmnya dan dengan hasil filmnya, memacu kami untuk merencanakan sesuatu, mungkin lima sampai enam tahun atau kapanpun. Dan kami diberikan waktu oleh studio untuk merenungkannya. Jadi, tiga tahun jarak antara Batman Begins ke Dark Knight serta empat tahun jarak antara Dark Knight ke Dark Knight Rises.

Saya kira hebat dalam jenjang waktu yang sempit diantara film Batman, Anda masih menyempatkan memproduksi The Prestige dan Inception. Apakah proyek tersebut adalah hal yang ingin Anda lakukan sejak lama?

Iya betul, saat kamu memproduksi film franchise kamu jadi ikut tumbuh bersamanya, satu hal yang saya paham, yang saya kira sekarang sedikit sulit membicarakannya dengan studio adalah kamu butuh waktu. Dan maksudnya adalah bukan berarti bekerja terus-terusan, melainkan membiarkan banyak ide terkumpul lalu istirahat sebentar melakukan hal lain dan kembali bekerja untuk memutuskan baiknya seperti apa. Ironisnya, menurut saya sangat penting membuat trilogi yang masuk akal dan saling berkaitan, karena kamu dapat memahami makna setiap filmnya bagi penonton sebelum kamu melanjutkan ceritanya.

interstellar
‘Interstellar’ dirilis pada 2014 lalu. (Sumber: interstellermovie.net)

Bagaimana awal Anda bisa terlibat Interstellar? Apa yang ingin Anda sampaikan melalui film itu?

Proyek itu awalnya dikembangkan oleh Lynda Obst. Ia adalah karib dekatnya Kip Thorne, seorang astrofisikawan di Cal Tech dan mimpi mereka adalah untuk membuat film sci-fi yang konsepnya berasal dari sains dunia nyata. Mereka awalnya mengembangkan film itu bersama Steven Spielberg di Paramount bekerja sama dengan adik saya untuk mengembangkan ide cerita dan skenarionya.

Ia dan saya mendiskusikannya apakah kami akan bekerja sama dalam memproduksi film tersebut atau tidak. Jadi saya sudah mengetahui Jonathan bekerja untuk film itu selama empat tahun belakangan dan saya benar-benar merasa ini adalah kesempatan yang langka dimana kami menyampaikan keseluruhan cerita mendalam tentang bagaimana manusia saling berhubungan dan membandingkannya dengan skala kosmik.

Pada akhirnya, ketika saya mendapatkan kesempatan untuk terlibat, saya ingin terjun langsung dalam produksinya karena kesempatan seperti itu sangat sedikit dan jarang, dimana kami benar-benar melihat sesuatu di dalam film itu, entah itu tentang sisi emosional dan keseluruhan ceritanya, bagaimana luasnya suatu cakupan cerita.

Sementara film-film Anda selalu diterima dengan baik secara kritik dan komersial, beberapa orang berkomentar bahwa film-film Anda terlalu sulit untuk dipahami. Apakah komentar tersebut wajar? Dan apakah Interstellar adalah usaha Anda untuk membantah hal tersebut?

Tidak, tidak sama sekali. Saya berusaha tidak terlalu terpengaruh komentar buruk film yang saya kerjakan. Agak sulit untuk membatasi reaksi orang lain, dan alasannya, komentar buruk atau lebih tepatnya kritik pedas akan membuatmu marah, dan kamu akan senang saat seseorang menyukai filmnya –tetapi kamu akan mendapatkan dua respon dalam setiap filmnya, tidak peduli kamu siapa, dan itu film yang sama!. Jadi, ada hal wajar yang datang dari persepsi seseorang, yaitu bahwa pendapatnya sangat sangat subyektif, seperti saat saya mengomentari film-film yang saya tonton. Jadi, kamu tidak terlalu terpengaruh oleh itu.

Pada kenyataannya, beberapa tahun yang lalu saya sempat membaca komentar bahwa film saya sarat akan emosi atau apalah itu. Padahal, saya tahu ketika orang-orang menonton Inception, mereka keluar bioskop dengan menangis; ketika orang-orang menyaksikan The Dark Knight Rises, orang keluar dengan air mata bercucuran dan para staf akan mengelap air mata itu. Kami selalu memproduksi film yang sangat emosional, misalnya Memento. Menurut saya, performa Guy Pearce di Memento sangat menyentuh. Memento sangat teknikal, sangat tepat sasaran, mungkin saja sarat akan emosi, tetapi ia memberikan yang terbaik untuk mendapatkan emosi yang dapat menggugah penonton dan filmnya tidak akan sukses tanpa Guy Pearce.

Lain halnya dengan Interstellar, lebih personal dan lebih jelas terlihat emosinya dibanding film-film saya yang lain, jadi ya Interstellar pasti ada di barisan pertama bila kita membahas emosi yang ada didalamnya, tetapi itu pun karena memang sejalan dengan ceritanya. Maksud saya, Interstellar benar-benar tentang bagaimana manusia saling berhubungan dan mungkin maksud mereka bagaimana jika melihatnya dari sisi yang lain. Kesimpulannya tidak, saya berusaha tidak terpengaruh dengan komentar buruk tentang fim yang saya produksi.

Anda tidak bisa menyenangkan semua orang…

Memang tidak. Sebagai seorang sineas, kamu tahu, seberapa positifnya satu hal pun, kamu akan selalu menemukan komentar buruk, kamu akan mengetahui bahwa hal yang orang-orang sukai di saat yang bersamaan juga orang-orang benci, jadi kamu tidak perlu meresponnya. Lebih penting adalah mempercayai yang kamu lakukan.

Beberapa film Anda –Inception, Trilogi Batman dan tentunya Interstellar– terlibat juga didalamnya aktor-aktor ternama, beberapa mungkin bekerja sama dengan Anda beberapa kali. Bagaimana kesannya bekerja sama dengan aktor-aktor tersebut?

Saya senang bekerja sama dengan mereka dan menyenangkan juga dapat menjalin pertemanan dengan mereka, kami bisa bekerja sama dengan mereka lebih dari sekali, misalnya yang pernah bekerja sama dengan saya –Michael, dan pastinya Christian. Saya belajar, terutama dari Insomnia dengan Al Pacino bahwa ada hal menarik yang aktor lakukan. Ada rahasia yang mereka lakukan dimana akting mereka dengan hebat melampaui, dan melakukan sesuatu yang melampaui ekspektasi.

Yang saya sadari adalah saya sangat apresiasi dengan hal itu, jadi meskipun saya tidak mengerti akting, saya tidak melakukannya, saya bukan aktor dan saya tidak tahu banyak tentang akting, saya mampu untuk memanfaatkan masa produksi untuk mengobservasi akting dan mengetahuinya. Saya memikirkan bagaimana cara untuk mewujudkan kemampuan akting seperti itu. Saya kira yang dilakukan aktor itu sangat misterius, lebih jauh lagi sangat menarik. Kiranya itu adalah hal yang paling menarik yang saya dapat lakukan, memungkinkan itu terjadi dengan cara saya sendiri.

Sepertinya selain film Christopher Nolan, semua film yang dibuat rumah produksi ternama itu film sekuel, remake atau adaptasi. Mengapa menurut Anda sulit sekali untuk memproduksi film orisinal?

Karena semua itu bisnis dan film-film tidak gratis, film itu mahal diperlukan segala macam usaha keras. Tidak dapat dipungkiri industri film mempunyai siklus sendiri dan bersandar pada banyak tipe, sewaktu-waktu, industri film ramai dengan ide-ide orisinal. Lain waktu, industri akan lebih kepada film franchise. Saya sudah pernah bekerja dan bersenang-senang pada dua jenis tersebut, jadi saya tidak akan mengkritik satu sama lain.

Menurut saya, saya selalu tertantang membuat film orisinal. Kita ini ada di zaman –saya tidak ingin menyebutkan rumah produksi yang spesifik, karena ini bukan salahnya satu orang— zaman dimana ide sebuah film sukses seperti film blockbuster contohnya lebih mengedepankan pada IP (Intellectual Property), maksudnya seperti entah itu buku atau karakter komik atau semacamnya yang tak asing lagi untuk orang-orang. Dan kamu tahu, itu pun akan berubah dari waktu ke waktu.

Namun sekarang ini, itulah dimana uangnya terpakai, tapi aku juga menemukan rumah produksi yang selalu mau terus terbuka dengan inovasi dan ide-ide baru. Mereka punya tanggung jawab untuk memiliki penonton yang banyak sehingga filmnya dapat terbayar, tetapi tidak ada yang lebih mengerti daripada orang lapangan bahwa sesungguhnya penonton pun menginginkan hiburan yang baru dan orisinal –mereka benar-benar tahu itu— jadi ini lebih mengenai bagaimana kamu menemukan hal yang tepat di waktu yang tepat.

Kami sangat beruntung film Inception bisa langsung kami garap setelah the Dark Knight sukses di pasaran –banyak orang yang mempercayai saya, jadi saya dapat meyakinkan Leonardo Di Caprio untuk ikut terlbat dalam Inception, dan kamu tahu, ia memikul beban yang berat untuk memuaskan penonton. Pada akhirnya, semua itu hanya tentang menemukan tempat dan waktu yang tepat secara bersamaan juga dengan ide yang orisinal, karena sesuatu yang orisinal bila untuk hanya berdiri sendiri tidak akan menyenangkan siapapun dimanapun.

Nolan 2.jpg
Sejauh ini Nolan telah membuat 9 film panjang (Sumber: screenrant.com)

Beberapa pertanyaan mungkin bisa dijawab dengan satu sampai dua kalimat: Pertanyaan pertama, apa benar Anda tidak mempunyai alamat email dan telepon genggam?

Ya itu benar…

Bagaimana bisa? Seseorang yang memproduksi film hebat tentang teknologi bahkan tidak memiliki hal tersebut…

Hmm… saya tidak pernah menggunakan email karena saya kira itu tak akan membantu saya dalam hal apa pun. Saya hanya tidak bisa terganggu karena itu. Kalau untuk telepon genggam, analoginya seperti “Kalau kamu ada di kota New York, kamu tidak akan jauh-jauh dari tikus” –Saya tidak pernah benar-benar jauh dari telepon genggam. Maksudnya seperti ini, ketika kami sedang ikut kegiatan pramuka dengan sepuluh orang dan semuanya memiliki telepon genggam tentu tidak akan sulit menghubungi saya saat diperlukan.

Saat saya mulai terjun dalam bisnis ini, tidak banyak orang yang menggunakan telepon genggam, saya pun sama, saya tidak pernah ingin memilikinya dan saya sangat beruntung untuk terus bekerja. Jadi, akan ada orang sekitar saya yang menepuk punggung lalu memberikan telepon genggamnya kepada saya jika memang diperlukan. Saya sebetulnya senang tidak memiliki telepon genggam karena itu dapat memberikan saya waktu untuk berpikir. Kamu tahu, saat kamu punya smartphone dan sepuluh menit istirahat pasti kamu akan langsung memainkan smartphone itu.

Apa bagian favorit Anda dalam memproduksi suatu film? Praproduksi, Masa Produksi, atau Pascaproduksi, atau yang lainnya mungkin?

Saya sangat suka dengan semua hal yang berkaitan dengan memproduksi suatu film. Namun bila saya disuruh memilih mana yang favorit maka menurut saya bagian soung mixing –saya pikir itu adalah hal yang paling menyenangkan untuk dillakukan.

Apa reaksi Anda tentang kritik soal suara film Interstellar?

Yah… Menurut saya Interstellar adalah film yang dikemas dengan sangat keren dan orang-orang yang terlibat di dalamnya benar-benar memberikan yang terbaik. Akan tetapi, kalau kita bicarakan film blockbuster, orang-orang mungkin lebih memerhatikan bagaimana ekspektasi suaranya harusnya seimbang dan saya beruntung dapat bebas memberikan suara yang menurut saya paling pas dan bereksperimen dengan membuat suatu hal yang berbeda. Itu adalah pengalaman yang seru.

Apa persepsi salah terbesar tentang Anda yang dikatakan orang yang tidak mengenal Anda?

Saya tidak tahu. Saya benar-benar tidak tahu sejujurnya. Saya tidak tahu menahu apa yang orang pikirkan tentang saya.

Bahkan dari artikel dan semacamnya, Anda tidak pernah merasa disalahpahami dalam beberapa hal?

Sejujurnya tiidak benar-benar secara signifikan. Maksud saya, saya selalu –saya kira saya pernah menjawab pertanyaan ini sebelumnya: orang-orang mengatakan saya membuat film yang sarat emosi. Saya kira orang-orang mungkin tidak menyadari subyektivitas dari sebuah penilaian yang biasanya dilakukan ketika menonton film. Akan tetapi ketika kamu menunjukkan film itu kepada orang lain dan sejumlah orang menangis karena film itu dan ada sebagian orang yang mengatakan film itu sarat akan emosi, kamu akan menanggapinya dengan “Mungkin kamu sendiri yang membuat filmnya terlihat sarat akan emosi”. Itu bukan tentang saya, itu tentang filmnya. Tentang saya, saya tidak bisa memberitahunya.

Kebalikannya, hal apa yang Anda harapkan agar orang-orang yang tidak mengenal Anda tahu tentang Anda? Adakah sesuatu yang Anda harap orang tahu tentang Anda?

Tidak, saya tidak ingin orang tahu apa pun tentang saya. Saya tidak bercanda. Ketika kamu tahu lebih jauh tentang seseorang yang memproduksi film, maka kamu akan makin sulit fokus pada filmnya –itu yang saya rasakan– dan itu juga mengapa saya setuju dengan wawancara yang sedikit –maksudnya, ketika kamu harus promosi film, kamu akan terlibat, tetapi saya sesungguhnya benar-benar tidak ingin ada di pikiran penonton saat menonton film saya.

Lebih dari satu dekade, Anda bekerja untuk film yang budget-nya besar dan juga dari rumah produksi ternama. Maukah Anda memproduksi film yang budgetnya 9 juta dollar AS, performance-driven, efek-efek yang tidak berbayar seperti Memento?

Iya tentu saja. Menurut saya, semua itu sebenarnya tergantung ceritanya. Kalau berbicara tentang efeknya, kami hanya punya 600 pengambilan gambar untuk efek Interstellar; itu mungkin lebih sedikit dibandingkan setengah dari film-film di Festival Film Sundance, dan untuk performance-driven, saya kira tidak bisa dengan hal yang seadanya kamu bisa membuat film performance-driven karena itulah yang benar-benar ditonjolkan di Interstellar. Jadi, menurut saya lihat dulu keseluruhannya, apa saja yang dibutuhkan cerita itu untuk bisa kamu ceritakan. Saya yakin saya tidak terlalu memperhatikan besar atau tidaknya ruang lingkup suatu film, tetapi lebih kepada bagaimana film itu menarik perhatian saya. Entah kecil atau besar.

Mengapa hal yang penting ketika sebuah film menggunakan rol film dibanding digital?

Mengapa itu hal yang penting? itu tergantung selera sutradaranya jika ingin menggunakan rol film. Itu benar-benar hal yang penting. Tidak ada orang yang mengatakan ke sutradara harus digital begitu pula degan rol film. Dan itulah prinsip sutradara yang harus dipertaruhkan. Sesuatu menjadi penting ketika sutradara mengatakan itu penting.

Mengapa hal itu penting bagi Anda?

Mengapa itu penting? Karena rol film memproduksi warna lebih baik dan resolusi gambar yang jauh lebih baik. Menurut saya, banyak orang yang mengira menggunakan rol film itu ide yang buruk –yang menyayangkan sekali tetapi kenyataan. Namun, kualitas terbaik suatu film yang menggunakan rol film menurut pandangan saya –bahkan secara teknisnya– melebihi kualitas film digital. Mungkin dari waktu ke waktu, standar industri film juga berubah, dan tentunya film digital digunakan untuk selalu sesuai dengan standar kualitas film yang konsisten.

Akan tetapi, saya tidak melihat alasan mengapa harus ada standardisasi. Maksudnya, ya memang itu lebih murah tetapi industri musik tidak ada standardisasi. Tidak ada industri lain yang mempunyai tolak ukur standar. Sebut saja, Broadway tidak ada tolak ukur standarnya –kamu buat keadaan panggung sesuai yang dibutuhkan dan kamu mendesainnya sesuai kemauanmu. Film ini (Interstellar) sukses besar ketika kami memutarkannya di berbagai bioskop dan memutuskan “OK, untuk film ini, inilah yang kami akan lakukan,” tidak penting itu rol film 70 mm di Cina atau rol film 70 mm di Cinerama Dome atau yang lainnya –mereka melakukannya dengan hebat untuk kami. Orang-orang kebanyakan melihat penggunaan roll film itu hal yang kuno padahal tidak. Ini lebih kepada bagaimana kamu dapat menyajikan film dengan menggunakan sesuatu yang istimewa, sesuatu yang luar biasa. Memang membutuhkan uang yang banyak, tapi apabila kamu mampu mengapa tidak? Kalau memang film itu pantas, mengapa tidak?

Saya tahu Anda tidak ingin berbicara tentang Anda sendiri, tetapi bolehkah Anda ceritakan sedikit tentang Anda, tentunya bukan hal-hal yang buruk. Apa yang Anda lakukan saat tidak memproduksi film?

Saya senang menghabiskan waktu dengan anak-anak. Itu intinya.

Anda bukanlah pemain golf, perenang atau hal seperti itu?

Saya tidak akan mengumbar lebih banyak soal itu.

OK, OK…

Saya bukan pemain golf atau perenang.

Apakah ada karier seorang sutradara lain yang Anda harap seperti dia?

Banyak sekali sutradara yang hebat. Saya ingin terus bekerja sampai akhir karier saya seperti beberapa sutradara hebat misalnya John Huston. Menurut saya Stanley Kubrick mempunyai kemampuan hebat untuk membuat film personal selama ia mau yang kebanyakan sutradara menginginkan hal tersebut. Dan saya kira ketika kita lihat bagaimana Steven Spielberg menggarap suatu film dan film-filmnya menjadi film terdepan –hebat sekali ketika kamu terus dapat melakukan hal tersebut. Atau sebut saja Clint Eastwood, kamu tahu? Maksud saya banyak sekali contoh sutradara hebat yang sangat menarik sampai sekarang sejak pertama kali filmnya sukses. Mungkin itulah hal pokok yang harus diperhatikan untuk cita-cita dan aspirasimu: tetap lakukan yang terbaik.

Boyhood.jpg
Boyhood (2014) karya Richard Linklater (Sumber: filmdoctor.co.uk)

Apa film favorit tahun 2014 Anda selain Interstellar?

Hahaha, umm saya tidak tahu apakah lebih baik menjawab atau tidak karena saya belum menyaksikan banyak film. Saya tidak bisa menyempatkan menonton film ketika saya bekerja. Saya baru saja menyelesaikan pekerjaan, jadi belum benar-benar menyaksikan banyak film. Bisa dibilang Boyhood yang disutradarai Richard Linklater itu film yang luar biasa, tentu tidak perlu dipertanyakan lagi.

Yang terakhir, beberapa tahun dari sekarang orang akan mengingat era ini, apa yang Anda harap akan mereka katakan tentang film-film Christopher Nolan?

Saya ingin mereka mengatakan bahwa film-filmnya selalu ambisius, kamu tahu, selalu berusaha melakukan sesuatu dengan niat yang paling tulus dan benar-benar berusaha menjadi ambisius. Saya kira mungkin itu yang saya harapkan. Sejauh mana film itu bagus atau tidak, tentunya saya harap orang akan menyukainya hahaha, tetapi sesungguhnya itu tidak mungkin.


Penerjemah: Siti Mutia Nurfalah
Penyunting: M. Rasyid Baihaqi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s