Pusaran Amuk: Tenggelam dalam Gelora Dendam

Data Buku

  • Judul: Pusaran Amuk
  • Penulis: Zaky Yamani
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Pertama, 2016
  • Tebal: 424 Halaman

Dari awal hingga akhir, tak henti-hentinya saya mengeluarkan kata-kata kasar. Namun tak perlu saya tuliskan satu per satu di sin­­­­i karena Anda pun mungkin seperti saya atau bahkan malah meneriakannya saat membaca Pusaran Amuk. Pasalnya sang penulis Zaky Yamani dengan tajam dan kejam menenggelamkan pembacanya dalam gelora dendam. Kalau tak percaya rasakan sendiri nikmat membaca novel keduanya ini.

Singkatnya, novel fiksi ini memulai kisahnya lewat Mahmud, seorang miskin yang ditimpa musibah, tiga orang polisi pecundang yang terjebak dalam persidangan, serta Jimmy dan Doddy sepasang sobat yang mengantarkan pembacanya ke sebuah teka-teki panjang tak berkesudahan. Zaky mengajak pembacanya merawat anak kecil bernama dendam; dari kecil mungil hingga tumbuh dewasa perkasa. Ia berani melawan waktu, bolak-balik sana-sini mampir ke satu tokoh ke tokoh lainnya sampai segala tetek bengeknya terkuak.

Mahmud dan Jimmy dipukuli habis-habisan oleh tiga polisi yang ternyata salah tangkap. Sialnya polisi itu tidak tahu kalau Jimmy adalah jurnalis alias buruh media. Polisi pun harus rela bertekuk lutut dengan memilih jalur ‘damai’ daripada perang melawan Jimmy dan media massa tempatnya bekerja. Namun Jimmy tak mau merendahkan dirinya menjadi pecundang dan menyerah pada polisi yang dianggap bangsat itu. Ia menolak mentah-mentah tawaran ‘damai’ polisi itu. Dari sinilah awal mula marabahaya datang.

Setiap bagian dalam kisah ini mampu merobek hati nurani, mengacak-acak pikiran, dan memberi rasa penasaran berlebih. Jika Anda membacanya dalam satu waktu langsung tamat rasanya wajar saja atau jika harus berhenti pun itu karena ingin mengingatkan diri bahwa ini hanya fiksi. Namun walau fiksi, novel ini serius mencerminkan berbagai fenomena yang terjadi di kehidupan nyata. Fokus utamanya mengenai dunia politik yang panas dan ganas dengan menyertakan berbagai institusi penting nan sinting.

Dalam kisahnya Anda akan menemukan berbagai konflik kekuasaan, kepentingan, sampai percintaan dengan tokoh-tokoh pendukung yang tak kalah seru kisah hidupnya, Penokohan setiap karakternya dirajut dengan cermat sampai ke seluk-beluknya. Pembaca pun sampai ikut larut dalam konflik batin setiap tokohnya yang mewakili manusia yang begitu adanya. Manusia diperlihatkan begitu manusiawi yang selalu berada di wilayah abu-abu; tidak baik dan tidak jahat tapi kadang baik dan kadang jahat.

Pembagian porsi setiap tokohnya pun terjaga dengan baik. Tokoh utama, Jimmy jelas memiliki porsi yang lebih banyak dengan berbagai tokoh pendukung yang muncul untuk menguatkan karakternya. Ketika satu tokoh baru muncul, menariknya penulis tidak hanya menjadikannya sebagai peran figuran yang numpang lewat saja. Namun tokoh itu juga punya latar belakang yang kuat sehingga jelas segala macam trik dan intriknya dalam sebuah konflik. Sudut pandang pun sering kali berganti tidak hanya dari tokoh Jimmy seorang. Hal ini membuat cerita lebih terbuka dan jelas duduk perkaranya.

Selain penokohan karakter yang dalam, keunggulan novel ini adalah cara penulisannya yang cergas dan bernas pada setiap kalimatnya. Sejak awal kisah saja pembaca langsung dibuat iba melihat cobaan yang dirasakan tokoh Mahmud. Apalagi Mahmud digambarkan sebagai seseorang tak berdosa yang tiba-tiba terkena masalah tapi malangnya lagi, tidak ada yang mau membantunya. Saat itu rasanya, ingin saya bertanya: “Dimana rasa saling tolong-menolong kalian? Apakah sudah mati?”

Tokoh yang berlimpah dan perubahan sudut pandang juga bisa menjadi bumerang. Di satu sisi itu memang jadi keunggulan tapi jika tidak berhati-hati malah bisa membosankan dan membuat pembaca menutup buku. Namun rasanya menjadi pilihan bijak dan tepat untuk menuliskan berbagai tokoh dan sudut pandangnya. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri karena pembaca bisa mengetahui dengan rinci keterlibatan seseorang dalam sebuah kasus pelik yang sering jadi polemik.

Pusaran Amuk mengambil fokus utamanya mengenai dendam yang begitu dalam. Namun kisah ini tidak serta merta menghakimi tetapi menjabarkan dengan luas dan tuntas. Seperti pada halaman pembuka yang dikatakan Jono de Barros, “…dan mereka menganggap sangat tidak dimaafkan apabila dahi mereka disentuh dengan tangan, mereka menamakan balas dendam ini dengan ‘amok’.” Pun sesuai judulnya bahwa yang punya dendam bukan hanya Anda seorang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s