Damien Chazelle dalam Memproduksi Film Musikal

Oleh: Alex Billington via firstshowing.net


“Saya ingin filmnya seperti surat cinta bukan hanya mimpi, tapi mimpi yang biasanya dicemooh masyarakat”. Ia baru berumur 31 tahun, tetapi ia sudah membuat dua film favorit saya. Ia adalah Damien Chazelle, penulis sekaligus sutradara Guy and Madeline on a Park Bench, Whiplash (2014) dan tahun ini La La Land, film musikal yang riang dan menarik, yang menjadi film nomor satu saya tahun ini. Pemutaran perdana La La Land mendapat sambutan hangat di Venice, Telluride, dan Toronto Film Festival musim gugur ini dan sedang ditayangkan di seluruh dunia. Saya cukup beruntung dapat menemui Chazelle di Telluride Film Festival dan berbincang mengenai pembuatan La La Land. Saya masih terngiang-ngiang oleh filmnya dan bersemangat sekali untuk mewawancarainya tentang semua hal –dari permainan piano Ryan Gosling, menyingkap Los Angeles, memastikan ia tidak menjadi angkuh setelah sukses besar.

Saya awalnya terpana dengan Whiplash saat pertama menyaksikannya di Sundance Film Festival tahun 2014 yang pada akhirnya menjadi Film Top 10 tahun 2014 hingga membawa saya menjadi penggemar Damien Chazelle. La La Land nyatanya melampaui ekspektasi saya, dan tidak dapat dipungkiri menjadi film nomor satu saya tahun 2016. Saya benar-benar mengagumi film ini, saya suka sekali dengan filmnya; saya mendengarkan soundtrack-nya setiap hari, dan saya tidak sabar untuk menonton filmnya lagi dan lagi hingga nanti sudah ada versi Blu-ray. Benar-benar suatu kehormatan bertemu Damien dan mewawancarainya, hal yang juga menarik adalah ia seumuran dengan saya, hanya seorang pria muda yang memproduksi film yang ia mau. Ia bercerita tentang mimpi besarnya dan mencapai mimpi tersebut dengan seorang sineas-sineas hebat, saya berbincang dengannya berjam-jam, tentang film-film bagus, dan tentang dalam memproduksi film. Saya harap yang terbaik untuknya dan tidak sabar menantikan apa yang ia akan buat selanjutnya.

Bagaimana Anda melakukan semua ini? Bagaimana Anda bisa sampai pada tahap ini? Anda sudah mempersiapkan film ini sebelum Whiplash, bukan? Tetapi suksesnya film tersebut membantu film Anda kali ini, betul?

Iya, kesuksesan film tersebut tentunya membantu. Hollywood jadi lebih tertarik pada naskah film ini setelah Whiplash, sudah pasti. Akan tetapi, tetap saja –agak lucu, karena kami bekerja sama dengan Lionsgate, yang sudah menyutujui filmya sesaat sesudah kami menayangkan Whiplash di Sundance. Jadi, sebenarnya jauh sebelum Whiplash dirilis. Dan sejak itu hingga proses syuting ada banyak tantangan selama proses memproduksi filmnya dimana—budget-nya berubah, casting-nya juga berubah, hal-hal seperti itu. Jadi jika kamu bertanya pada hari tertentu selama proses apakah filmnnya akan berhasil atau tidak, saya akan mengatakan itu adalah dugaan siapapun.

Benarkah?

Saya ingat ketika kami—saya dan Justin Hurwitz, komposer yang juga teman satu kampus saya—kami selalu mengobrol tentang membuat film ini. Dan dua produser yang juga bekerja sama dengan saya, saya ingat sehari sebelum syuting kami minum bersama, hanya seperti minum-minum biasa. Sebenarnya itu seperti perayaan karena “Wow, kita sudah sampai sejauh ini. Saya kira mereka tidak akan bisa menarik kembali pilihannya, karena besok itu hari pertama syuting.” Jadi itu saja sudah seperti sebuah kemenangan karena proses hingga bisa memproduksi filmnya saja sudah sangat sulit.

Saya bertanya menurut pandangan saya, itu seperti hal yang “mudah”. Tentu itu hal terburuk yang bisa dikatakan setelah apa yang Anda lewati, tetapi apa yang bisa kita simpulkan…

Tidak, itu hal yang hebat.

Anda sepertinya sangat percaya diri dengan apa yang Anda lakukan, apa yang Anda produksi, apa yang Anda buat.

Kedengarannya hebat. Menurut saya, itulah yang saya sukai dari musikal lawas—sangat sulit tentunya yang mereka lakukan itu. Akan tetapi, film-film itu seperti tidak perlu usaha keras dan semacam emosi spontan yang tidak terlihat seperti banyak latihan…menurut saya yang dimiliki musikal lawas itu sudah sedikit hilang sekarang, yang terasa lebih manusiawi. Meskipun Anda dapat memiliki latar belakang warna-warni dan banyak yang menari dan lain-lain, film-film itu itu masih terasa manusiawi.

Dengan suksesnya Whiplash dan banyaknya pujian untuk La La Land, bagaimana caranya agar itu tidak membuat Anda besar kepala? Karena bisa saja film ini gagal, tapi tidak. Dan Anda mampu memproduksinya dengan baik dan membuat filmnya seru, film yang penuh optimis sampai adegan terakhir..

Sepertinya saya ahli dalam hal itu, maksudnya tidak menjadi besar kepala.

Benarkah?

Itu dia rahasianya, di benak saya tidak pernah membiarkan sukses membuat saya besar kepala. Saya ini orangnya sering gelisah, meragukan diri sendiri seperti “Oh Tuhan, bagaimana kalau ini terjadi? Dan ini terjadi” contohnya, skenario terburuk… Saya lebih sering gelisah seperti itu, saya yakin itu juga terjadi pada orang-orang yang bekerja di dunia film. Jadi karena itulah saya tak merasa sendiri. Akan tetapi, sepertinya saya akan selalu meragukan dan mengkhawatirkan setiap film yang saya produksi. Saya harus bekerja keras, apalagi sekarang, jangan sampai terlalu fokus pada hal-hal seperti itu.

Lebih penting untuk bersyukur karena saya diberi kesempatan untuk membuat film yang saya mau, contohnya mengingat kami minum-minum bersama sebelum syuting La La Land itu termasuk salah satu hal yang penting, karena itulah saya harus melakukannya. Selalu bersyukur dapat membuat hal yang ingin kamu lakukan. Setiap kali saya diberi kesempatan untuk memproduksi film yang saya inginkan atau saya impikan, itu seperti kemenangan, dan selalu…

Anda selalu berpegang teguh pada mindset itu.

Selalu teguh pada mindset itu. Kesimpulannya bukan berorientasi pada hasil, tetapi Tuhan tahu bagaimana pikiran saya… akan sulit untuk saya.

Damien Chazelle 2
sumber: firstshowing.net

Apakah Anda juga seorang perfeksionis?

Iya tentu.

Apakah sesulit itu untuk mencapai hasil seperti La La Land?

Iya.

Ada berapa banyak pengambilan gambar sampai hasil adegan-adegannya sempurna?

Sepertinya rata-rata bisa hingga 40 kali.

Apakah itu untuk semua adegan menari atau untuk beberapa adegan dialog?

Kami mengambil lima menit untuk satu adegan dan diulang hingga 40 kali. Pada akhirnya, kamu akan menghabiskan harimu hanya untuk satu adegan menari.

Wow. Oke.

Adegan-adegan seperti saat mereka sedang makan malam, kami mengambil banyak gambar secara konvensional. Adegan-adegannya diambil dengan dua kamera. Sepertinya hal seperti ini satu-satunya di dunia perfilman, selain konser John Legend yang juga menggunakan dua kamera. Standarnya seperti “shot, reverse shot”, tetapi kami tetap sering mengulang pengambilan gambar dan mencoba hal-hal yang berbeda. Saya punya filosofi terutama untuk film ini, kami berusaha keras untuk sampai tahap syuting, akan kacau kalau saya mengambil gambar untuk adegan selanjutnya sebelum 100% yakin dengan hasilnya yang sempurna dan tidak hanya satu hasil sempurna, melainkan dua. Karena, pasti ada saja perasaan tidak ingin menyesal karena melewatkan kesempatan. Kamu hanya punya satu kesempatan untuk membuat film seperti ini, jangan mengacaukannya.

Ada banyak hal yang Anda pikirkan yaitu memastikan semuanya sempurna. Apakah termasuk adegan menyanyi?

Iya, itu tergantung, karena untuk lagunya sendiri itu pre-recorded.

Ah, oke.

Seperti adegan menari, kami akan melakukan pengulangan. Akan tetapi, adegan-adegan penting seperi saat audisi Emma dan hal-hal seperti itu kami merekamnya langsung. Agak lucu ketika saya ingin memperhatikan semuanya, tapi secara fisik saya tidak mungkin memperhatikan segala hal. Jadi, ada Mandy Moore juga, koreografernya akan berada disana, mengamati setiap langkah dan Justin Hurwitz, komposer kami, juga produsernya, Marius De Vries menggunakan headphones mereka dan mendengarkan setiap nada. Pelatih piano Ryan, Liz Kinnon, akan mengamati setiap kali Ryan memainkan piano, memastikan ia memainkannya dengan benar dan nada-nadanya sempurna. Bahkan saat kamu tidak ingin menjadi sineas kolaboratif, saat kamu membuat film musikal, kamu harus. Karena pada dasarnya film musikal itu genre kolaborasi.

Saya baru saja menyaksikan film dokumenter tentang John Coltrane judulnya Chasing Trane dan itu membuat saya berpikir bagaimana Anda menciptakan potret sempurna saat Ryan memainkan piano di La La Land. Kamera fokus pada tangannya lalu menjauh, itu keren. Bagaimana Anda akhirnya membuat sinematografi seperti ini?

Ryan membuat segalanya lebih mudah karena faktanya dia itu orang yang rajin, keras pada dirinya sendiri, bagaimana ia tidak ingin menggunakan piano ganda, yang mana saya juga sudah mempersiapkannya. Saya sendiri dan tim musik sampai pada kesimpulan untuk menyewa piano ganda sebelum Ryan syuting, karena itu yang harusnya kami lakukan. Dan Ryan sangat ingin mengetahui segala hal, singkatnya ia menjadi handal bermain piano dan kami menyadari kami tidak memerlukan ganda.

Wow.

Dan kami menyadari pengambilan gambarnya bisa lebih bebas daripada yang saya perkirakan. Misalnya; seharusnya, permainan pertama pianonya sebagai penampil di restoran saat kami memaksa ia bermain dengan light cue lalu menjauhkannya, semua bagian dari filmnya seharusnya lebih terstruktur dan sedikit berbeda seperti pertemuan Ryan dan Emma. Dan seharusnya pertemuan itu diambil dengan kamera mengelilingi set dan saat kamera fokus pada Ryan, kamera bergerak mengelilingi Emma yang sedang memperhatikan Ryan. Saya ingat memberitahukan Ryan awalnya seperti “Jangan khawatir, ini bukan pengambilan single take. Kau hanya perlu tahu bagaimana memainkannya… dan saat benar-benar gila kami akan langsung cut dan pindah ke Emma, jangan khawatir” atau “Saya akan memfokuskan pada tanganmu saja, tetapi karena kami akan cut, kita dapat menggunakan piano ganda untuk adegan close up nya” dan pada saat itu, Ryan lagi-lagi mempelajari semuanya. Saya kira saat kami memulai syuting semuanya sudah siap, ternyata disanalah kami baru menyadari bahwa hal ini tidak hanya berarti bermain pianonya, tetapi harus bisa memainkan sebagai “Sesuatu yang jarang ditemui”. Dan itu semua dapat terwujud saat Ryan mampu mempelajari semuanya. Tentu tak akan terjadi kalau saja Ryan tidak kerja keras.

Damien Chazelle 3
sumber: firstshowing.net

Saya terpana bagaimana Anda mengatakan bahwa ini adalah sesuatu yang spontan saat berada di lokasi. Seberapa sering atau seberapa banyak hal ini terjadi? Atau mungkin baru-baru ini saja?

Itu satu-satunya yang berbeda saat di lokasi. Yang lainnya….

Tentu adegan yang lain sepertinya benar-benar direncanakan.

Iya, semua benar-benar direncanakan. Harapannya –terutama untuk aktor, mereka dapat benar-benar merasa seperti hidup di dalam filmnya. Dan sinematografer, Linus Sandgren bersama saya berusaha menyesuaikan dengan mereka. Akan tetapi, visual yang skematis pada filmnya benar-benar direncanakan sebelum syuting berlangsung.

Benar-benar berkesan saat menyaksikan adegan-adegan seperti ini di bioskop. Saya selalu ingin tahu, bagaimana memikirkannya sampai sedalam ini? Bagaimana perencanaan saat membuat naskahnya?

Saya ingat ketika kami berlatih untuk adegan saat macet lalu lintas, kami hanya punya waktu dua hari untuk mengambil gambar adegan itu. Kami punya waktu setengah hari di beberapa pekan sebelum latihan terakhir di jalan. Jadi, kami hanya memiliki waktu satu hari untuk syuting di jalan. Tantangannya, kami harus melakukan latihannya bukan di lokasi syuting. Jadi, kami latihan di area parkir yang tentunya jauh lebih kecil, tidak banyak mobilnya juga. Pada akhirnya, saya akan mengambil adegannya benar-benar hanya menggunakan iPhone lalu lari kesana-sini, mencoba mengira-mengira bagaimana kamera nantinya akan bekerja. Dan kami akan mengamatinya lalu memasukkan musik dan mendiskusikan apakah kami puas atau tidak, tetapi pada akhirnya semua berjalan dengan baik, dengan menggunakan iPhone di area parkir. Saya ingat saya merasa sangat senang dengan diri saya sendiri. Saya mengatakan “Adegan ini akan menjadi keren. Lihat saja betapa bagus gambarnya hanya dengan iPhone di area parkir! Bayangkan jika nanti 35…”

Lalu pada hari syuting di jalan untuk latihan terakhir lalu tiba-tiba seakan dibangunkan kembali bahwa ini tidak hanya tentang kebebasan menggunakan iPhone, tiba-tiba kamu harus berada di crane karena kamu akan mengambil gambar dari atas mobil, dan tiba-tiba saat kamu sudah benar-benar ada di jalan lereng miring seperti ini, kamu harus menyesuaikan dengan jalanan seperti itu dan saat semua elemen siap, makin banyak saja celah untuk membuat kesalahan. Jadi saat latihan terakhir yang pertama kami sampai menggaruk-garuk rambut dan berkata “oh my God, kami tidak akan dapat gambar yang lebih baik dari iPhone di area parkir. Ini benar-benar menyedihkan.”

Tapi kami belajar dari itu dan semangat lagi, para kru sangat hebat. Operator kamera kami membuat crane yang kami gunakan hingga dapat bergerak lebih cepat dan Mandy menciptakan beberapa koreografinya. Kami membuat beberapa perubahan dan kami benar-benar syuting beberapa minggu kemudian. Dan kami beruntung karena semua berjalan dengan lancar. Tapi itulah makna ketika kamu berlatih keras untuk siap menghadapi apa yang tidak berjalan dengan lancar.

Itu masuk akal. La La Land, diantara banyaknya “surat cinta”, seperti surat cinta untuk Los Angeles sendiri. Bagaimana Anda tahu lokasi-lokasi ini, bagaimana Anda memilihnya?

Saat seperti ini! Saya sudah tinggal di L.A selama sembilan tahun. Saat saya pertama menulis naskah, naskahnya seperti dari sudut pandang L.A. Dengan kata lain, seseorang yang masih belum tahu kotanya akan mempertanyakan apakah saya benar-benar menyukai tinggal disini atau tidak.

Jadi saya ingin banyak terlibat dalam penulisan naskahnya, bagaimana hubungan cinta sekaligus benci dan bagaimana kotanya juga bisa indah, tetapi juga bisa menjadi sangat hampa. Dan bagaimana itu dapat terjadi di lalu lintas yang macet hingga mejadi pemandangan romantis. Kota ini punya keduanya. Dan itu menakjubkan karena pada saat proses penulisan naskah dan saat proses pemilihan pemain dan juga pada saat proses syutingnya, saya belajar tentang tempat tinggal saya, rumah baru saya,dan banyak lagi.. filmnya jadi lebih personal.

Ini mengingatkan saya pada film dokumenter Los Angeles Plays Itself – Sudahkah Anda menyaksikannya?

Iya, saya suka filmnya. Film itu menjadi referensi besar dalam pengerjaan film ini untuk menggambarkan L.A secara benar dan mencoba memperlihatkan dengan cara yang selama ini kita tidak pernah lihat sebelumnya, atau setidaknya tidak untuk sementara waktu.

Anda banyak diskusi tentang film lama dan musikal yang menjadi referensi, tetapi yang ingin saya ketahui adalah: dimana Anda ingin meninggalkan jejak personal di film ini? Apa hal yang Anda ingin orang dapatkan setelah menonton film ini dari Anda?

Buat saya hal pertama yang saya pikirkan adalah, ide dasarnya seperti ini: apakah kamu bisa mengambil hal terpenting dari film musikal lawas, apakah kamu bisa mencapai fantasi dan tontonan musikal lawas, dan menggabungkannya dengan sesuatu yang terasa sangat mendalam dan kadang-kadang membosankan, sebagaimana potret realistis sebuah hubungan? Atau potret seorang seniman, atau dua seniman? Dan dapatkah dua hal tersebut hidup bersama? Dan juga, dapatkah mereka hidup bersama sekarang? Seperti ada suatu hari dimana: banyak orang berpikir bahwa mereka tidak menyukai film musikal. Di saat yang sama, kamu ingin membuat film tentang mimpi, yang kadang-kadang kenyataan tidak mendukung mimpi itu.

Saya kira kita hidup lebih… tidak berarti semua orang tahun 50-an murni, tetapi kita juga tidak murni sekarang. Dan saya ingin membuat film musikal yang memasukkan unsur itu… saya kira itu seperti sebuah harapan yang kita tidak pernah lihat sebelumnya. Tentunya kita pernah melihat elemen-elemen ini di film lain, tapi tidak pernah melihat semua itu disatukan seperti ini. Juga pada latar yang kontemporer. Setidaknya itulah harapannya.

Apa yang Anda sangat harapkan untuk orang lain belajar dari pengalaman Anda sebagai seorang sineas? Jika seseorang ingin mengikuti jejak Damien Chazelle, apa yang harus mereka lakukan: menantang diri mereka sendiri, mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya?

Iya seperti itu, tapi mungkin lebih luas dari itu. Ini akan jadi jawaban yang klise tapi untuk dapat bermimpi besar dan bebas bermimpi besar. Saya ingin filmnya seperti surat cinta bukan hanya tentang sebuah mimpi, tetapi mimpi yang biasanya dicemooh masyarakat. Itu mengapa kami menamakannya “La La Land”. Tidak hanya sebuah kota, tetapi bagaimana suatu pemikiran yang umumnya diremehkan, kamu tahu, “La La Land” adalah ekspresi menghina. Akan tetapi tidak realistis, untuk orang yang akan bekerja keras apa pun yang terjadi. Atau orang ini akan tetap berusaha membuat sesuatu meskipun kenyataannya mereka tidak yakin bisa. Atau orang ini bekerja di kantor politik, atau orang ini akan membuat rumahnya sendiri di lokasi gila seperti ini, atau orang ini akan menemukan cinta paling ideal dan kita semua seperti menertawakannya dan oke, semoga beruntung.

Kita semua punya mimpi yang pada tahap tertentu di hidup kita semua itu seperti tidak realistis atau orang-orang sekitar kita mengatakan “Kamu tahu, kapan kamu akan bangun dari mimpimu?” dan saya ingin film ini menjadi pengingat bahwa kadang-kadang tidak masalah kalau kamu tidak bangun. Kadang-kadang kamu harus tetap bermimpi. Dan karena itulah saya yakin bahwa lagu terakhir yang Emma nyanyikan… saya yakin itu seperti satu pernyataan di filmnya, bahwa karakternyalah yang akan mengatakan itu semua melalui lagu-lagu. Jadi ya, bagi saya itulah intinya.


Penerjemah: Siti Mutia Nurfalah
Penyunting: M. Rasyid Baihaqi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s